“Healing”, antara Kebutuhan atau Sekadar Tren
- 21 Apr 2026 16:12 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID,Jambi - Belakangan ini, istilah “healing” semakin sering terdengar, terutama di kalangan anak muda. Pergi ke tempat wisata, menikmati alam, atau sekadar ngopi di tempat estetik sering disebut sebagai cara untuk “menyembuhkan diri”.
Awalnya, konsep healing berasal dari proses pemulihan kondisi mental dan emosional. Namun, seiring waktu, maknanya mulai bergeser menjadi aktivitas refreshing atau liburan singkat untuk melepas penat.
Menurut World Health Organization, menjaga kesehatan mental memang penting, termasuk memberi waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat dari tekanan. Namun, healing tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang mahal atau jauh.
Menariknya, banyak orang justru merasa lebih tenang dengan hal-hal sederhana, seperti berjalan santai, mendengarkan musik, atau menghabiskan waktu bersama orang terdekat. Ini menunjukkan bahwa esensi healing sebenarnya ada pada ketenangan, bukan tempatnya.
| Baca juga: Arsip Bukan Sekadar Tumpukan Kertas Usang |
Healing bukan soal mengikuti tren, tetapi memahami kebutuhan diri sendiri. Selama dilakukan dengan cara yang sehat dan tidak berlebihan, setiap orang berhak menemukan caranya masing-masing untuk merasa lebih baik.
Untuk memahami bahwa tidak semua yang disebut healing benar-benar memberikan dampak positif. Jika aktivitas tersebut justru menimbulkan tekanan baru, seperti beban finansial atau kelelahan fisik, maka tujuan healing bisa menjadi tidak tercapai. Oleh karena itu, bijak dalam memilih cara healing menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Sehingga pada akhirnya, healing akan memahami kebutuhan diri sendiri. Bahkan setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk memulihkan energi dan menjaga keseimbangan emosional. Selama dilakukan dengan cara yang sehat, realistis, dan tidak berlebihan, healing dapat menjadi langkah sederhana namun bermakna untuk menjaga kualitas hidup.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....