Nomophobia yang Sangat Jarang Diketahui, Berikut Penjelasannya
- 16 Apr 2026 23:25 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID, Jambi - Nomofobia (no mobile phone phobia) adalah ketakutan berlebihan atau kecemasan saat jauh dari ponsel, kehabisan baterai/pulsa, atau kehilangan sinyal. Gejalanya meliputi kecemasan, panik, jantung berdebar, hingga ketergantungan kronis. Penanganan melibatkan detoks digital, membatasi penggunaan, dan terapi perilaku untuk mengurangi ketergantungan gadget. (FH UI)
Definisi lainnya, nomophobia, singkatan dari "no mobile phone phobia", merupakan fobia modern akibat ketergantungan pada smartphone. Kondisi ini pertama kali diidentifikasi dalam penelitian tahun 2010 di Inggris yang menemukan kegelisahan di kalangan pengguna ponsel.
Disarikan dari berbagai sumber terpercaya, berikut adalah poin-poin penting mengenai nomofobia:
1. Penyebab dan Gejala: Kondisi ini sering diawali kecanduan ponsel, ditandai dengan perasaan tidak nyaman, berkeringat, dan cemas saat tidak memegang handphone. Penderita sering memeriksa ponsel terus-menerus dan membawa gadget ke mana pun.
2. Kelompok Rentan: Remaja dan dewasa muda (18-24 tahun) adalah kelompok paling rentan mengalami nomofobia.
3. Dampak: Nomofobia dapat menyebabkan penurunan fokus, gangguan tidur, pola makan tidak sehat, serta memicu gangguan kecemasan dan depresi.
| Baca juga: Manfaat yang jarang diketahui dari Air Tajin |
4. Gejala lainnya: Penderita sering merasa panik, gelisah, atau cemas ketika ponsel hilang atau sinyal hilang, disertai gejala fisik seperti jantung berdebar, keringat berlebih, sesak napas, gemetar, dan pusing.
5. Sebab dari nomophobia: Belum ada penyebab pasti, tapi sering terkait kecanduan ponsel, FOMO (fear of missing out), atau trauma kehilangan ponsel sebelumnya. Sering dialami remaja dan dewasa muda.
Perawatan atau cara mengatasi dari nomophobia yakni mengurangi waktu penggunaan ponsel secara bertahap. Atur Waktu hingga mematikan ponsel satu jam sebelum tidur. Mengganti waktu bermain ponsel dengan hobi atau interaksi sosial langsung. Jika perlu, terapi perilaku kognitif (CBT) dapat membantu mengatasi kecemasan yang mendasarinya
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....