Tradisi Injak Bumi Sarat dengan Simbol Do'a Permohonan

  • 02 Apr 2026 07:47 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi - Tradisi Injak Bumi adalah ritual adat turun-temurun masyarakat Arab Melayu di Jambi Seberang yang dilakukan setelah salat Idul Fitri. Ritual ini melibatkan tokoh agama yang mendoakan dan menginjakkan kaki bayi ke tanah di halaman masjid sebagai simbol pengenalan kehidupan, perlindungan dari gangguan gaib, serta wujud rasa syukur.

Berikut adalah poin-poin penting mengenai tradisi ini :

Waktu Pelaksanaan: Dilakukan sesudah salat Idul Fitri di halaman masjid, salah satunya di Masjid Jami' Ba'alawi, Arab Melayu, Kota Jambi Seberang.

Prosesi: Tokoh agama/ulama mengusap tubuh bayi, melantunkan doa (seringkali doa perlindungan), lalu menurunkan bayi untuk menapakkan kaki ke tanah sebelum dikembalikan ke orang tua.

Makna Budaya dan Agama: Ritual ini merupakan akulturasi ajaran Islam dan adat lokal. Doa yang dibacakan bertujuan memohon perlindungan kepada Allah SWT agar anak tumbuh sehat, kuat, berkah, dan terhindar dari marabahaya atau gangguan gaib.

Simbolik Sosial : Seringkali setelah ritual, orang tua bayi menaburkan bunga dan uang logam yang kemudian diperebutkan oleh anak-anak sekitar, menambah kemeriahan perayaan Lebaran.

Tujuan : Merawat identitas budaya, memperkuat silaturahmi antarwarga Arab Melayu, dan sebagai bentuk penghormatan terhadap bumi yang dipijak.

Filosofi tradisi Injak Bumi (atau sering disebut Turun Tanah) dalam masyarakat Arab Melayu Jambi, khususnya di kawasan Seberang Kota Jambi, merupakan ritual transisi yang sarat dengan simbol doa bagi masa depan sang anak.

Berikut adalah beberapa nilai filosofis utama di balik tradisi ini :

  1. Simbol Awal Langkah Kehidupan
    Makna: Injak Bumi melambangkan momen pertama seorang manusia mulai menapakkan kakinya di dunia nyata.
    Filosofi: Tanah dianggap sebagai sumber kehidupan. Dengan menginjak tanah secara resmi, anak didoakan agar memiliki pondasi yang kuat dalam menjalani lika-liku kehidupan di masa depan.
  2. Harapan Kemandirian dan Keteguhan
    Doa untuk Masa Depan: Prosesi ini adalah bentuk permohonan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, teguh pendirian, dan tidak mudah goyah oleh pengaruh buruk.
    Kesucian Hati: Mirip dengan tradisi serupa di nusantara, ritual ini juga mengandung harapan agar langkah kaki sang anak selalu dibimbing ke jalan yang benar dan suci.
  3. Koneksi Spiritual dan Alam
    Pengenalan Ibu Bumi: Secara simbolis, bayi diperkenalkan kepada alam semesta ("Ibu Bumi"). Masyarakat Melayu Jambi percaya bahwa keharmonisan antara manusia dengan alam dan penciptanya harus dibangun sejak dini.
    Nilai Religius: Dalam konteks Arab Melayu Jambi, ritual ini selalu dibarengi dengan pembacaan doa-doa keselamatan dan selamatan, memperkuat identitas spiritual Islam yang melekat pada budaya lokal.
  4. Penguatan Identitas Budaya saat Lebaran
    Momen Silaturahmi: Pelaksanaan saat lebaran (Idulfitri/Iduladha) memiliki filosofi keberkahan kolektif. Karena keluarga besar berkumpul, doa yang dipanjatkan untuk sang anak dianggap lebih mustajab karena diamini oleh banyak kerabat.
    Pelestarian Nilai : Melaksanakan tradisi ini sesudah lebaran adalah cara masyarakat Jambi merawat identitas budaya agar tetap terjaga di tengah modernisasi. ()
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....