Partisipasi Perempuan dalam Sains di Jambi terus Berkembang
- 11 Feb 2026 08:46 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID, Jambi - Partisipasi perempuan dalam dunia sains di Indonesia menunjukkan tren yang menarik: meskipun angka partisipasi sekolah perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki di semua jenjang, keterwakilan mereka menyusut drastis saat memasuki dunia kerja.
Berikut adalah gambaran kondisi perempuan dan anak perempuan dalam sains (STEM) di Indonesia:
1. Statistik & Realitas Saat Ini
Dominasi di Pendidikan: Perempuan mendominasi penerima beasiswa pendidikan tinggi, seperti Beasiswa LPDP yang pada tahap I 2024 mencapai 53% penerima perempuan.
"Leaky Pipeline" (Penyusutan): Meski banyak yang menempuh studi sains, hanya sekitar 8% perempuan yang benar-benar bekerja di bidang sains dan teknologi.
Kesenjangan Sektoral: Keterwakilan perempuan masih sangat rendah di bidang teknik (engineering), komputasi, dan fisika.
2. Tantangan Utama
Stereotip Gender: Pandangan masyarakat yang menganggap bidang teknis lebih cocok untuk laki-laki masih menjadi hambatan psikologis bagi anak perempuan.
Beban Ganda: Tantangan dalam menyeimbangkan peran rumah tangga dan karier penelitian yang menuntut waktu tinggi.
Kurangnya Role Model: Minimnya eksposur terhadap ilmuwan perempuan sukses membuat anak perempuan ragu memilih jalur karier ini.
3. Tokoh Inspiratif Indonesia
Indonesia memiliki ilmuwan perempuan kelas dunia yang mematahkan stigma, di antaranya:
Prof. Adi Utarini: Peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang masuk daftar 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia versi TIME (2021) atas penelitian nyamuk ber-Wolbachia untuk menekan Demam Berdarah.
Pratiwi Sudarmono: Ilmuwan mikrobiologi dari Universitas Indonesia (UI) dan calon astronot pertama Indonesia dalam misi NASA.
Dr. Latifah Nurahmi: Ilmuwan muda di bidang robotika dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
4. Program Dukungan
Setiap tanggal 11 Februari, Indonesia turut memperingati Hari Internasional Perempuan dan Anak Perempuan dalam Sains. Beberapa inisiatif pendukung meliputi:
L’Oréal-UNESCO For Women in Science: Program beasiswa penelitian tahunan untuk ilmuwan perempuan muda Indonesia.
AWS Girls' Tech Day: Program kolaborasi pemerintah untuk melatih ratusan siswi SD-SMA dalam bidang AI dan robotika.
Partisipasi perempuan dan anak perempuan dalam sains di Jambi terus berkembang, ditandai dengan pencapaian pendidikan yang mendobrak batasan adat serta peran aktif institusi akademik dalam pemberdayaan gender di bidang teknologi.
Berikut adalah beberapa poin penting terkait kemajuan mereka:
1. Sosok Inspiratif: Terobosan dari Komunitas Adat
Salah satu pencapaian yang paling disorot adalah Juliana, perempuan pertama dari Suku Anak Dalam (SAD) yang berhasil meraih gelar sarjana (S1) di bidang sains. Ia lulus dari Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) Universitas Muhammadiyah Jambi. Keberhasilannya menjadi simbol penting bagi anak perempuan di komunitas adat untuk mengejar pendidikan tinggi di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Juliana, perempuan dari Suku Anak Dalam (SAD) Jambi, mencetak sejarah sebagai perempuan SAD pertama yang meraih gelar S1 Kehutanan dari Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Jambi pada tahun 2024. Prestasi ini memecahkan stigma komunitasnya dan membuka jalan bagi pendidikan anak perempuan di komunitas SAD.
Poin Kunci Perempuan dalam Sains di Jambi:
Pencapaian Pendidikan Tinggi: Juliana, yang didukung penuh oleh orang tuanya, menempuh pendidikan tinggi melalui beasiswa untuk membuktikan bahwa perempuan SAD dapat berkuliah, meskipun menghadapi pertentangan adat.
Pemberdayaan dan Inspirasi: Juliana aktif memotivasi anak-anak perempuan di komunitas SAD untuk memiliki cita-cita dan menentukan masa depan mereka sendiri.
Peran Pusat Studi: Universitas Jambi melalui Pusat Studi Kesetaraan Gender, berupaya meningkatkan kesadaran, pendidikan, dan pelatihan bagi perempuan dan anak di Jambi.
Konteks Adat SAD: Suku Anak Dalam adalah kelompok yang hidup di pedalaman Jambi, di mana pendidikan formal bagi perempuan masih jarang, menjadikan pencapaian Juliana sebagai langkah progresif.
Kisah Juliana merupakan bukti konkret bahwa dukungan keluarga dan akses pendidikan dapat mendorong perempuan dari komunitas terpencil untuk berkontribusi dalam bidang sains dan teknologi.
2. Peran Akademisi dan Institusi
Perguruan tinggi di Jambi memainkan peran kunci dalam mendorong kesetaraan gender di bidang sains melalui berbagai inisiatif:
Diskusi dan Workshop: Fakultas Saintek UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi secara aktif menyelenggarakan kegiatan yang menghubungkan sains dengan isu sosial, seperti workshop pemberdayaan perempuan disabilitas dan diskusi lingkungan.
Pusat Kajian Gender: Keberadaan Koordinator Pusat Gender, Anak, dan Disabilitas (PGAD) di UIN Jambi memperkuat pemetaan isu perempuan di tingkat akademisi dan praktisi.
Kolaborasi Strategis: Adanya kerja sama antara universitas dengan organisasi seperti Yayasan Beranda Perempuan Indonesia untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak di wilayah Jambi.
3. Tantangan dan Upaya Pemerintah
Meskipun ada kemajuan, partisipasi angkatan kerja perempuan di Jambi secara umum masih menghadapi tantangan dibandingkan laki-laki. Pemerintah Provinsi Jambi merespons hal ini melalui:
Program Kualitas Hidup: Melalui DP3AP2 Provinsi Jambi, dijalankan program peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan untuk memastikan lingkungan yang aman bagi mereka dalam berkarya.
Sistem Informasi Gender: Pengembangan Sistem Informasi Gender dan Anak (SIGA) Kota Jambi untuk mendukung perencanaan pembangunan yang lebih responsif gender.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....