Media Sosial Menjadi Panggung Baru bagi Penyiar
- 18 Sep 2025 15:52 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Suara penyiar dulu menjadi modal utama dalam dunia siaran. Kini, modal itu tidak lagi berdiri sendiri karena kehadiran di ruang digital menjadi panggung baru yang menentukan eksistensi penyiar.
Ilutrasi. (Foto: TREEDEO.ST/pexels)Dari Suara ke Layar Digital
Teori klasik Erving Goffman dalam The Presentation of Self in Everyday Life (1956) menjelaskan, setiap individu menampilkan diri seperti aktor di atas panggung. Ada panggung depan yang diperlihatkan ke publik, dan ada panggung belakang yang lebih privat.
Dalam konteks penyiar, siaran radio adalah panggung depan. Namun kini, media sosial menjelma menjadi panggung tambahan yang sama pentingnya.
Data Digital yang Mengubah Peta Penyiaran
Laporan We Are Social 2024 mencatat, Indonesia memiliki lebih dari 100 juta pengguna aktif Instagram. TikTok bahkan tumbuh lebih pesat dengan dominasi pengguna muda.
Data ini diperkuat oleh Kementerian Kominfo (2023) yang menegaskan pola konsumsi informasi masyarakat telah berubah. Generasi muda lebih banyak mengakses konten berbasis video pendek daripada mendengarkan siaran konvensional.
Tantangan inilah yang juga dihadapi Radio Republik Indonesia atau RRI. Kehadiran di ruang digital harus dijalankan tanpa kehilangan identitas sebagai radio publik.
Personal Branding Membuka Jalan Baru
Sebagai akademisi komunikasi di Universitas Dian Nusantara sekaligus broadcaster RRI, penulis merasakan langsung pentingnya personal branding di media sosial. Penulis tidak hanya hadir sebagai penyiar di balik mikrofon, tetapi juga membagikan pengalaman akademik, aktivitas siaran, hingga refleksi pribadi melalui akun Instagram dan TikTok @velysyukran.
Kehadiran di media sosial membuat publik lebih mengenal kompetensi penulis. Hasilnya, kepercayaan meningkat, kredibilitas terbentuk, dan peluang kerja bertambah.
Personal branding bukan hanya memperkuat karier, tetapi juga mengangkat citra RRI di mata publik. Penulis membangun identitas sebagai penyiar, akademisi, sekaligus penulis buku Saritilawah, yang menegaskan kiprah di bidang vokal dan penyiaran.
Citra yang terbentuk membuat audiens, mahasiswa, dan mitra kerja melihat penulis sebagai sosok kredibel dalam dunia komunikasi. Dari situ, berbagai peluang baru terbuka—mulai dari kerja sama, undangan menjadi pembicara, hingga kesempatan mengembangkan diri di ranah akademik.
Belajar dari Kangga Supernova
Pengalaman ini membuktikan personal branding memberi dampak nyata. Kredibilitas yang terbangun di media sosial menjadikan penyiar lebih dipercaya publik.
Kepercayaan inilah yang kemudian menjadi kekuatan utama seorang penyiar. Contoh lain datang dari rekan penyiar, Kangga Supernova, vokalis band sekaligus produser Radio RRI Pro2 FM Jakarta.
Lewat konsistensi membagikan konten di Instagram @kanggasupernova, ia berhasil membangun personal branding yang kuat. Konten kreatifnya bukan hanya memperkuat citra pribadi, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata.
Semakin dikenal, semakin banyak pula tawaran pekerjaan yang datang. Branding yang ia bangun di media sosial memperluas jejaring profesional sekaligus memperkuat identitasnya sebagai musisi dan penyiar.
Sinergi Branding Individu dan Institusi
Fenomena ini menunjukkan personal branding bukan sekadar “gaya” atau tren. Strategi ini membawa dampak nyata bagi penyiar yang konsisten mengelola citra diri di media sosial.
Seorang penyiar yang mampu membangun reputasi akan memperkuat kepercayaan publik. Reputasi yang terbentuk tidak hanya menguntungkan individu, tetapi juga melekat pada lembaga penyiaran tempat ia bernaung.
Bagi penulis, semakin banyak orang mengenal identitas sebagai penyiar sekaligus akademisi, maka nama RRI pun ikut terangkat. Ketika audiens melihat konten di Instagram atau TikTok, mereka tidak hanya melihat individu, tetapi juga mengaitkannya dengan RRI.
Dengan begitu, citra RRI sebagai lembaga penyiaran publik semakin kokoh di benak masyarakat. Hal yang sama berlaku pada penyiar lain yang membangun personal branding secara konsisten.
Sayangnya, tidak semua penyiar menyadari hal ini. Masih ada yang menganggap personal branding hanya tren anak muda.
Padahal, branding individu justru bisa memperkuat branding institusional RRI. Laporan Komisi Penyiaran Indonesia atau KPI menegaskan, kualitas interaksi penyiar dengan audiens menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan publik terhadap lembaga penyiaran.
Artinya, personal branding penyiar di media sosial secara tidak langsung ikut meningkatkan citra lembaga. Pertanyaan muncul, apakah branding individu berpotensi mengaburkan citra institusi?
Jawabannya tidak, selama nilai yang ditampilkan sejalan dengan visi RRI. Branding individu justru menjadi kekuatan tambahan yang memperkuat kehadiran institusi.
Ketika penyiar membagikan konten edukatif, budaya lokal, atau pengalaman humanis, audiens bukan hanya mengenal sosok penyiar itu. Mereka juga mengingat RRI sebagai lembaga yang dekat dengan masyarakat.
Personal Branding sebagai Investasi Karier Penyiar
Membangun personal branding memang bukan proses instan. Dibutuhkan konsistensi, keaslian, dan kesadaran etis.
Setiap unggahan tidak hanya mewakili individu, tetapi juga lembaga. Karena itu, ke depan, RRI dapat mendorong pelatihan personal branding agar para penyiar lebih siap menghadapi era digital.
Personal branding bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Penyiar yang tampil autentik dan kredibel akan lebih dekat di hati audiens.
Pada akhirnya, keberhasilan individu penyiar akan memperkuat keberhasilan RRI sebagai lembaga penyiaran publik.
Penulis: Laili Fithriyah
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara dan Radio Broadcaster RRI