Bertani Singkong dan Menjala Ikan untuk Bertahan Hidup

  • 06 Mar 2026 15:30 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, bantaran Kanal Banjir Timur (BKT) menjadi tumpuan hidup bagi seorang warga Rawa Bebek yang akrab disapa Bapak Lemed (60). Di usia senjanya, ia mengisi hari-harinya dengan bercocok tanam dan menjala ikan di tepian kanal.

Bapak tersebut mengaku sudah sekitar 2 hingga 3 tahun terakhir memanfaatkan lahan kosong di bantaran BKT untuk menanam singkong dan pisang.

Awalnya, lahan tersebut sering digunakan untuk menggembala kambing, namun kini ia mengubahnya menjadi kebun kecil sepanjang kurang lebih 50 meter.

Kepada RRI Jakarta, ia mengaku aktivitas bertaninya ini bermula dari keisengan semata untuk mengisi waktu luang, bukan sebagai mata pencaharian utama.

"Iseng-iseng saja, buat sayur-sayuran. Enggak modal kok, cuma tancap batang singkong saja," ujarnya sederhana.

Ia juga menceritakan bahwa gubuk sederhana yang ia bangun di lokasi hanya digunakan untuk berteduh saat lelah bekerja, bukan tempat tinggal permanen.

Meski telah merawat tanamannya, ia mengaku pasrah jika hasil panennya kerap diambil orang lain.

"Kadang-kadang kita enggak ikut panen, tahu-tahu sudah dicabutin orang. Ya biarin saja, mungkin rezeki mereka," tuturnya dengan nada ikhlas.

Baginya, jika ada yang membeli daun singkong seharga Rp 5.000 atau Rp 10.000, itu sudah cukup disyukuri.

Di balik kerendahan hatinya soal hasil tani, tumpuan ekonomi utamanya justru berasal dari aktivitas menjala ikan. Setiap hari, mulai pukul 07.00 pagi hingga 11.00 siang, ia menebar jala di aliran BKT untuk mencari ikan mujair.

"Kalau singkong kan lama, 9 bulan baru panen. Sehari-hari saya andalannya ikan. Dapatnya enggak pasti, kadang 10 kilo, kadang 15 kilo," jelasnya.

Ikan-ikan tersebut kemudian ia jual di pasar atau kepada pembeli yang melintas di sekitar lokasi.

Meski usianya tak lagi muda, semangatnya mencari nafkah tidak surut. Ia mengungkapkan motivasi terbesarnya saat ini adalah membiayai anak bungsunya yang sedang menempuh pendidikan di sebuah pondok pesantren di Yogyakarta.

"Istri sudah enggak ada. Anak tinggal satu yang bontot, sekolah di Yogya, mondok. Lulus SD kemarin langsung ke sana," ungkapnya.

Kegigihan warga Rawa Bebek ini menjadi potret nyata perjuangan masyarakat kecil dalam memanfaatkan ruang yang ada demi menyambung hidup dan masa depan keluarga.

Rekomendasi Berita