Hidup di Bawah Bayang-Bayang SUTET
- 03 Mar 2026 15:06 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, Jakarta – Di sebuah sudut permukiman padat Jakarta, bayang-bayang besi raksasa itu tak pernah benar-benar pergi. Menara Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) menjulang tepat di atas rumah Hartoyo (50), warga RT 09 RW 01. Selama 15 tahun terakhir, ia dan keluarganya hidup persis di bawah struktur baja yang menopang kabel listrik bertegangan sangat tinggi—sebuah realitas yang bagi sebagian orang terdengar ekstrem, tetapi baginya telah menjadi keseharian.
Rumah Hartoyo berdiri tepat di antara kaki-kaki menara. Posisi ini bukan sekadar dekat, melainkan benar-benar berada dalam “kotak” tapak menara. Konsekuensinya, struktur bangunan harus disesuaikan demi memenuhi standar jarak aman. Atap rumahnya dipangkas sekitar 1,5 meter agar tidak terlalu dekat dengan kabel listrik.
“Masuk pun kita harus nunduk. Karena atap rumah kepotong sekitar 1,5 meter oleh PLN untuk jarak aman,” ujar Hartoyo saat ditemui RRI Jakarta di kediamannya.
Pemangkasan tersebut, menurutnya, dilakukan melalui kesepakatan dengan pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN). Ia menerima kompensasi sekitar Rp75 juta sebagai ganti rugi atas penurunan tinggi bangunan. Jarak antara atap rumah dan kabel listrik kini sekitar 1,5 meter, mengikuti ketentuan keselamatan yang ditetapkan.
Hartoyo bukan satu-satunya warga yang bertahan di area itu. Di dalam tapak menara yang sama, terdapat sekitar enam rumah lain yang berdiri berhimpitan. Mereka berbagi ruang dengan infrastruktur vital yang menyalurkan listrik bagi jutaan orang, tetapi sekaligus menyisakan kekhawatiran tersendiri.
Rasa was-was paling terasa saat hujan turun. Hartoyo menggambarkan suara dengungan dari kabel listrik ketika cuaca buruk melanda. “Kalau hujan itu ada bunyinya, mendengung. Nguuung begitu suaranya. Goyang sih enggak, cuma bunyinya itu,” tuturnya, menirukan suara listrik statis yang terdengar dari atas rumahnya.
Soal dampak kesehatan, terutama isu radiasi yang kerap menjadi perdebatan publik, Hartoyo mengaku belum merasakan keluhan fisik yang berarti. Ia dan keluarganya merasa sudah terbiasa dengan kondisi tersebut. Meski demikian, rasa khawatir tetap ada—terutama ketika cuaca ekstrem datang tanpa bisa diprediksi.
PLN, menurutnya, melakukan kontrol rutin setiap bulan untuk memastikan kondisi jaringan dan keamanan lingkungan sekitar tetap terjaga. Namun bagi Hartoyo, hidup di bawah SUTET tetaplah soal kompromi antara kebutuhan tempat tinggal dan risiko yang harus diterima.
Di balik gemuruh listrik yang mengalir tanpa henti, ada kisah tentang adaptasi, keterbatasan pilihan, dan ketahanan warga. Hartoyo memilih bertahan, menundukkan kepala setiap kali melangkah masuk ke rumahnya—sebuah gestur kecil yang setiap hari mengingatkannya bahwa ia hidup berdampingan dengan energi besar yang tak pernah tidur.