Raup Cuan Ternak Bebek di Lahan Sewaan Rorotan
- 28 Feb 2026 05:55 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA – Di tengah hiruk pikuk pembangunan gedung pencakar langit dan padatnya permukiman Ibu Kota, siapa sangka usaha peternakan bebek masih menjanjikan keuntungan yang menggiurkan.
Hal ini dibuktikan oleh Mat Yasin (68), seorang peternak bebek petelur yang bertahan di kawasan Rorotan, Jakarta Utara.
Tergabung dalam kelompok ternak RMB, Mat Yasin memanfaatkan lahan tidur milik sebuah perusahaan swasta seluas kurang lebih 1,5 hektare.
Di lahan sewaan yang dihuni sekitar 30 anggota kelompok tani tersebut, suara keriuhan bebek seolah menjadi anomali di tengah bisingnya Kota Jakarta.
Mat Yasin bukanlah pemain baru. Ia telah menggeluti usaha ini sejak tahun 2000. Awalnya, ia beternak secara perorangan di kawasan yang kini menjadi kompleks Jakarta Garden City (JGC), Cakung, sebelum akhirnya tergeser pembangunan dan pindah ke Rorotan sekitar 15 tahun lalu.
"Dulu di sana (JGC), sekarang sudah jadi perumahan. Di sini (Rorotan) sudah 15 tahun. Awalnya sendiri-sendiri, baru sekitar tahun 2010 kita bentuk kelompok," ujar Mat Yasin saat ditemui di lokasi peternakannya, Jum'at 27 Februari 2026.
Saat ini, Yasin memelihara sekitar 400 ekor bebek, jumlah yang menyusut dari populasi sebelumnya yang mencapai 700 ekor. Meski demikian, produktivitasnya tetap terjaga. Dari 400 ekor bebek, ia mampu memanen sekitar 230 butir telur per hari.
Secara ekonomi, beternak bebek di Jakarta ternyata masih sangat potensial. Dengan harga jual telur dari kandang berkisar Rp 2.400 hingga Rp 2.500 per butir, Yasin mampu mengantongi pendapatan kotor sekitar Rp 500.000 per hari.
"Kalau dihitung kasar, per bulan bisa dapat (omzet) Rp 15 juta. Keuntungan bersihnya sekitar 50 persen setelah dipotong biaya pakan," ungkapnya.
Menariknya, biaya sewa lahan yang ia keluarkan tergolong sangat terjangkau. Karena lahan tersebut milik PT yang belum digunakan, para peternak hanya dikenakan biaya sewa sekitar Rp 200.000 per bulan.
"Statusnya bayar sewa saja, karena ini tanah PT," tambahnya.
Kendati menguntungkan, usaha ini bukan tanpa kendala. Tantangan terbesar bagi peternak bebek di Jakarta adalah pasokan pakan dan penyakit.
Untuk menekan biaya produksi, Yasin mengandalkan limbah roti (roti BS) sebagai pakan tambahan. Namun, mencari limbah roti di Jakarta semakin sulit.
"Pakan itu kadang susah nyarinya, saya sampai cari roti (limbah) ke Subang. Kalau penyakit, kadang ada masa 'nge-blank' di mana bebek sakit dan produksi telur turun. Itu tantangan terberatnya," jelas Yasin.
Jerih payah Mat Yasin bergelut dengan lumpur dan kandang bebek di pinggiran Jakarta tidak sia-sia. Dari hasil penjualan telur bebek ini, ia mampu menghidupi keluarga, membeli kendaraan, hingga membiayai pendidikan anak-anaknya ke jenjang tinggi.
"Alhamdulillah, dari bebek ini bisa punya kendaraan, rumah, dan anak kuliah sampai D3. Selama masih ada lahan, beternak di Jakarta masih sangat memungkinkan," pungkasnya optimis.
Kisah Mat Yasin menjadi bukti bahwa sektor agraris dan peternakan masih memiliki napas di Jakarta, selama ada ketekunan dan strategi dalam memanfaatkan lahan yang tersisa.