Menanam Harapan di Tengah Rob Pesisir Marunda

  • 27 Feb 2026 11:05 WIB
  •  Jakarta

DIUSIANYA Yang telah menginjak 72 tahun, semangat Pak Kayat tak surut oleh teriknya matahari pesisir. Sebagai warga setempat, ia menjadi saksi hidup bagaimana kawasan tempat tinggalnya terus-menerus digerus banjir rob.

Hari itu, Pak Kayat baru saja menanam sekitar 100 batang mangrove. Namun, di balik kegigihannya, terselip keresahan mendalam mengenai efektivitas penanaman yang selama ini dilakukan, serta minimnya peralatan yang memadai.

Pak Kayat mengungkapkan bahwa banjir rob masih menjadi tamu rutin, terutama pada tanggal 12 hingga 16 penanggalan bulan, ketika air pasang mencapai puncaknya.

Meski kawasan tersebut sering menjadi lokasi penanaman mangrove oleh berbagai instansi dan perusahaan, dampaknya belum maksimal karena pola penanaman yang dinilainya sekadar seremonial.

“Banyak yang tanam, kerap banget dulu di sini penuh, tapi hilang. Karena apa? Nanamnya asal ditaruh saja,” kata Pak Kayat ketika diwawancarai RRI Jakarta, Rabu, 25 Februari 2026.

Ia menjelaskan kesalahan teknis yang sering terjadi. Banyak pihak hanya menancapkan bibit sedalam 10 sentimeter sehingga mudah tersapu ombak. Padahal, menurut pengalamannya, mangrove harus ditanam dengan kedalaman galian minimal 25 hingga 30 sentimeter agar akarnya kuat mencengkeram.

“Kalau cuma digeletakkan atau 10 senti masuk, itu enggak bakalan jadi. Cuma patok saja dikasih bambu, tapi hilang,” ujarnya.

Kendala utama yang dihadapi warga lokal seperti Pak Kayat adalah ketiadaan alat berat atau alat gali yang mumpuni. Selama ini, mereka hanya mengandalkan tenaga manual dan bambu seadanya untuk membuat lubang tanam.

“Kendala bagi tukang tanam seperti saya ini alat. Harusnya ada model kayak sekop atau ‘srokan’ agar bisa diangkat cepat. Kalau ini cuma mengharapkan pakai bambu,” kata pak Kayat.

Ia berharap pemerintah tidak hanya fokus pada seremonial penanaman, tetapi juga memperhatikan fasilitas bagi warga yang merawat bibit tersebut setiap hari.

“Tolong kasih alat. Alat saja,” ujarnya penuh harap.

Di luar fungsinya sebagai penahan abrasi, Pak Kayat juga melihat potensi ekonomi dari tanaman bakau. Ia menceritakan bahwa buah mangrove kini dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai jual, seperti sirup, kopi, hingga puding.

Produksi olahan ini dilakukan oleh menantunya, Marzuki, di rumah susun (rusun) Blok B3 tempat mereka tinggal. Meski pengolahannya masih manual, produk tersebut mulai dipromosikan, salah satunya dalam pameran di Gambir.

Kisah Pak Kayat adalah cerminan ketangguhan warga pesisir. Di tengah ancaman rob yang tak pasti kapan berakhir, ia tetap menanam dengan harapan sederhana: agar pemerintah memberikan dukungan nyata, bukan sekadar janji, demi lingkungan yang lebih baik.

Rekomendasi Berita