Ryan Kyoto Meninggal: Mengenang Pencipta Lagu Pasrah
- 31 Jan 2026 13:07 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, JAKARTA - DUNIA Musik Indonesia berduka setelah musisi senior sekaligus pencipta lagu legendaris, Ryan Kyoto, meninggal dunia pada Rabu, 28 Januari 2026. Namanya melekat kuat lewat lagu 'Pasrah' yang dipopulerkan Ermy Kulit, serta deretan karya lain yang membentuk lanskap pop Indonesia era 1980–1990-an. Kepergiannya menutup perjalanan panjang seorang komposer yang bekerja dalam sunyi, tetapi meninggalkan gema panjang dalam sejarah musik nasional.
Ryan Kyoto wafat setelah puluhan tahun terutama di era tahun 80-an tengah menjadi “arsitek emosi” di balik suara penyanyi besar Indonesia. Informasi duka beredar dari kalangan musisi. Peneliti sejarah musik pop Indonesia Stanley Tulung melalui akun instagram @stanley.tulung menyebut Ryan Kyoto mengembuskan napas terakhir di rumah sakit di Jakarta pukul 08.30 WIB.
Arsip program siaran radio Warta Musik Indonesia di Pro 3 Radio Republik Indonesia atau RRI menceritakan tentang lagu 'Pasrah' yang lahir dari momen spiritual dan kebuntuan kreatif yang justru membuka jalan besar dalam karier Ryan Kyoto. “Saya minta kepada Allah, dan dalam dua jam lagu itu selesai lengkap dengan liriknya,” ujar Ryan dalam wawancara bersama penyiar Yudi Ismail di RRI Jakarta semasa hidup. Ia menyebut proses itu sebagai titik ketika manusia hanya bisa berusaha lalu berserah.
Mengenal Ryan Kyoto
Nama Ryan Kyoto bukan sekadar label artistik, melainkan identitas yang ia bangun dari nama alias ayahnya. Ia memulai karier sebagai penyanyi sebelum akhirnya dikenal luas sebagai komposer setelah didorong untuk membawakan karya sendiri. “Kalau mau jadi penyanyi, bawakan lagu sendiri, jadilah diri sendiri,” ucapnya mengenang nasihat penyiar radio yang mengubah arah hidupnya.
Jejak karyanya menyebar luas lewat suara Ermy Kulit, Chrisye, Novia Kolopaking, hingga Ina Rawie. Lagu 'Sendiri Lagi' bahkan ditulis dalam waktu singkat sebelum rekaman Chrisye dimulai. “Jam delapan pagi belum ada lirik, tapi sebelum rekaman semuanya selesai,” kata Ryan, menggambarkan bagaimana ilham datang di saat terdesak.
Ryan Kyoto tidak hanya dikenal lewat lagu 'Pasrah', tetapi juga lewat kemampuannya membaca karakter vokalis. Pada awal 1990-an, ia memperkenalkan warna berbeda lewat lagu 'Kembali' yang dibawakan Novia Kolopaking. Lagu itu lahir dari fase reflektif dalam hidupnya setelah kembali dari perjalanan panjang ke luar negeri yang justru membuatnya ingin pulang dan memulai lagi dari nol.
Ia secara khusus meminta Novia Kolopaking yang saat itu belum menjadi nama besar. “Gua maunya penyanyi baru, gua puas kalau lagu baru dinyanyikan artis baru,” ujar Ryan dalam wawancara radio di RRI Jakarta. Keputusan itu terbukti tepat, karena lagi 'Kembali' meledak dan mengangkat nama Novia Kolopaking sebagai vokalis pop melankolis era 1990-an.
Kisah serupa terjadi pada Ina Rawie melalui lagu 'Untuk Apa'. Ryan sengaja tidak mengikuti pola lagu pop arus utama saat itu, melainkan memilih pendekatan bossanova yang lembut dan kontemplatif. “Saya selalu bikin apa yang saya punya, tidak mengikut-ngikut orang,” ucapnya, menegaskan prinsip musikalnya.
Produser sempat ragu karena warna musiknya dianggap tak lazim untuk pasar saat itu. Namun lagu tersebut justru menancapkan identitas baru bagi Ina Rawie dan memperluas spektrum pop Indonesia. Pendekatan Ryan menunjukkan keberanian artistik—bahwa pasar bisa dibentuk oleh kejujuran musikal, bukan sekadar tren.
Baik pada lagu 'Kembali' maupun 'Untuk Apa', Ryan Kyoto memperlihatkan pola yang sama: intuisi kuat pada suara penyanyi dan keyakinan pada ilham yang datang di saat genting. Ia tak sekadar menulis lagu, tetapi merancang momentum karier bagi penyanyinya. Di situlah letak peran tersembunyinya dalam sejarah musik Indonesia—sebagai komposer yang bekerja di balik layar, tetapi menentukan arah panggung.
Di balik popularitas lagu-lagunya, Ryan Kyoto dikenal vokal soal hak pencipta. Ia aktif di Asosiasi Komposer Seluruh Indonesia atau AKSI dan mengingatkan pentingnya izin penggunaan lagu.
Selamat jalan, Ryan Kyoto. Semua karyamu akan selalu dikenang indah.