Harapan Baru Orangutan Tapanuli Pasca Bencana Batang Toru
- 29 Jan 2026 20:36 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID - Jakarta - Kawasan ekosistem Batang Toru di Sumatra Utara baru saja dihantam cobaan berat akibat cuaca ekstrem pada akhir November 2025 lalu. Siklon tropis Senyar memicu hujan sangat lebat hingga menyebabkan banjir bandang dan longsor di habitat asli Orangutan Tapanuli. Kondisi ini menjadi alarm keras bagi semua pihak karena populasi primata langka ini kian terancam punah.
Direktur Program TFCA Sumatera, Samedi, menegaskan bahwa bencana ini harus menjadi titik balik untuk memperbaiki tata kelola hutan secara serius. “Bencana ekologis di Batang Toru adalah alarm keras bagi kita semua, tetapi juga momentum untuk berbenah,” ujar Samedi dalam siaran pers yang diterbitkan Yayasan KEHATI. Ia optimis penyelamatan masih mungkin dilakukan jika semua sektor mau bekerja sama melakukan pemulihan ekosistem.
Pemerintah kini didorong untuk segera menetapkan wilayah tersebut sebagai Kawasan Strategis Nasional demi perlindungan yang lebih kuat. “Orangutan Tapanuli masih bisa diselamatkan jika pemulihan ekosistem dilakukan secara serius dan kolaboratif,” tambah Samedi menekankan pentingnya sinergi. Langkah awal seperti pencabutan izin usaha beberapa perusahaan di sana pun patut diapresiasi sebagai awal yang baik.
Data dari analisis satelit menunjukkan kerusakan hutan di Blok Barat mencapai ribuan hektar dan merusak sumber pakan alami orangutan. Para peneliti memprediksi pemulihan sumber pangan ini bisa memakan waktu hingga lima tahun ke depan. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan mengingat jumlah populasi mereka yang kini hanya tersisa sekitar 800 individu saja.

(Kondisi waktu bencana di sekitar lanskap Batang Toru (Sumber: YOSL-OIC))
Momentum Hari Primata Indonesia pada 30 Januari ini pun menjadi panggung untuk mengajak publik ikut bersuara. Dukungan masyarakat melalui media sosial dan kampanye edukasi sangat diperlukan agar isu ini tetap menjadi prioritas nasional. Tanpa adanya desakan publik yang kuat, upaya restorasi habitat berbasis sains mungkin tidak akan berjalan maksimal.
Yayasan KEHATI melalui program TFCA Sumatera terus berkomitmen mengelola sumber daya untuk melestarikan keanekaragaman hayati Indonesia. Dengan pengalaman lebih dari dua dekade, lembaga ini terus memfasilitasi berbagai program perlindungan hutan dan iklim dari Aceh hingga Papua. Fokus utama mereka saat ini adalah memastikan pembangunan tidak lagi merusak masa depan satwa liar yang tersisa.
Menyelamatkan Orangutan Tapanuli bukan hanya soal satu spesies, tapi juga tentang menjaga fungsi ekologis bagi warga Sumatra. Hutan Batang Toru merupakan penyangga kehidupan yang mengendalikan bencana dan menyediakan sumber penghidupan masyarakat luas. Dengan komitmen kuat dari pemerintah dan ilmuwan, harapan untuk melihat primata ini bertahan hidup masih sangat nyata.