Para Pengendali Air Banjir di Jakarta

  • 28 Jan 2026 14:23 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Di BALIK Surutnya genangan yang kerap terjadi lebih cepat di sejumlah wilayah Jakarta, ada kerja senyap para “pengendali air” yang mengoperasikan ratusan pompa banjir. Sistem ini menjadi tulang punggung kota yang tak lagi bisa sepenuhnya mengandalkan aliran gravitasi akibat penurunan muka tanah.

Pompa pengendali banjir kini menjadi senjata utama Jakarta menghadapi kombinasi hujan ekstrem, luapan sungai, dan banjir rob. Tanpa mesin-mesin ini, banyak kawasan cekungan berpotensi tergenang lebih lama.

Di Jakarta Utara, Frans Agustinus Siahaan, Kepala Seksi Pengelolaan Sarana Pengendali Banjir Sudin Sumber Daya Air atau SDA Jakarta Utara, mengatakan pompa menjadi solusi utama ketika gravitasi tak lagi berfungsi. “Di Jakarta Utara sudah tidak bisa mengandalkan gravitasi air, jadi pompa ini perbantuan untuk menyalurkan air dari saluran ke daerah yang lebih tinggi,” ujar Frans dalam siaran radio Tanggap Bencana Kentongan 91,2FM Pro1 RRI Jakarta, Selasa, 27 Januari 2026.

Ia menyebut Jakarta Utara memiliki 74 rumah pompa dengan sekitar 199 unit pompa berkapasitas total 328 meter kubik per detik. Pompa mobile juga disiagakan di titik rawan genangan untuk membantu ketika pompa stasioner tak mampu mengejar debit air.

Frans menjelaskan pompa stasioner siaga 24 jam untuk menjaga saluran tetap kosong sebelum hujan datang. “Tugas kami mengosongkan daerah olahan supaya saat hujan turun kapasitas saluran masih bisa menampung air,” ucap dia.

Namun pompa bukan tanpa kendala teknis di lapangan. “Pompa bekerja 24 jam, kadang kepanasan atau tersumbat sampah di turbin sehingga terkendala,” kata Frans.

Dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Heri Andreas, menilai pompa efektif mempercepat surutnya banjir di kota yang mengalami cekungan akibat penurunan tanah. “Jakarta sudah punya problem gravitasi, sehingga dibutuhkan pumping station untuk menyedot air dari cekungan banjir ke sungai,” ujar Heri. 

Heri menambahkan, penurunan tanah di Jakarta masih terjadi 1–10 sentimeter per tahun dan berdampak besar pada perluasan area banjir. Ia menyarankan sistem polder dan kolam retensi diperbanyak serta peningkatan daya tampung seperti konsep ruang bawah tanah penampung air.

Data Dinas Sumber Daya Air DKI menunjukkan Jakarta memiliki lebih dari 600 pompa banjir, terdiri dari pompa stasioner dan mobile di berbagai wilayah. Teknologi sensor, pemantauan real-time, serta modernisasi peralatan mulai diterapkan agar respons terhadap ancaman banjir lebih cepat.

Selain memindahkan air, pompa sebenarnya bekerja dalam satu ekosistem pengendalian banjir yang melibatkan drainase, sungai, waduk, hingga laut. Jika salah satu komponen terganggu, kinerja pompa ikut terpengaruh.

Frans Agustinus Siahaan menjelaskan, pompa tidak bisa berdiri sendiri tanpa saluran yang terawat. “Kalau saluran menyempit karena sedimen atau sampah, pompa tetap bekerja keras tapi aliran airnya tidak lancar,” ujar dia.

Kondisi ini sering terjadi di kawasan permukiman padat yang salurannya tertutup bangunan atau dipersempit. Akibatnya, air yang sudah dipompa ke sungai kadang kembali meluap ke permukiman saat kapasitas sungai terlampaui.

Frans menyebut tantangan lain datang dari kombinasi hujan ekstrem dan banjir rob. “Kadang buangan pompa kita ke laut, tapi kalau rob terjadi airnya seperti muter kembali,” ucapnya.

Meski demikian, Frans menegaskan peran masyarakat tetap menentukan. “Kita minta dukungan warga menjaga saluran, jangan buang sampah sembarangan karena itu menyumbat aliran,” ujar dia.

Rekomendasi Berita