BI DKI Sebut Inflasi Jakarta Februari 2026 Terkendali

  • 02 Mar 2026 20:45 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Inflasi DKI Jakarta pada Februari 2026 tercatat sebesar 0,63 persen secara bulanan (mtm), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 0,68 persen. Capaian tersebut menunjukkan tekanan harga di ibu kota relatif lebih terkendali, meski terjadi peningkatan permintaan menjelang Ramadan dan gangguan pasokan akibat cuaca.

“Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Jakarta berada di level 4,91 persen, sedikit di atas inflasi nasional sebesar 4,76 persen. Kenaikan tahunan ini terutama dipengaruhi faktor basis perbandingan (base effect), mengingat pada Februari 2025 terjadi inflasi yang sangat rendah akibat kebijakan diskon tarif listrik. Tekanan tersebut diperkirakan bersifat sementara dan akan kembali normal pada April 2026,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Iwan Setiawan, di Jakarta, Senin, 2 Februari 2026.

Iwan menyebut, peningkatan inflasi Februari juga dipicu faktor musiman menjelang Ramadan yang mendorong permintaan bahan pangan. Selain itu, kondisi cuaca dengan curah hujan tinggi di sejumlah sentra produksi hortikultura berdampak pada penurunan kualitas dan kuantitas hasil panen, sehingga memicu kenaikan harga di tingkat konsumen.

Menurutnya kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi dengan kenaikan 2,23 persen (mtm), setelah sebelumnya mencatat deflasi. Komoditas yang mengalami lonjakan harga antara lain daging ayam ras, cabai rawit, dan bawang merah.

“Kenaikan harga ayam dipicu peningkatan harga live bird di tingkat produsen, sementara cabai dan bawang merah terdampak gangguan panen akibat genangan lahan. Bahkan, sejumlah komoditas seperti bayam mengalami penurunan produksi karena lahan terendam,’ ujarnya.

Lebih lanjut Iwan menjelaskan bahwa di tengah ketidakpastian global, harga emas dunia turut mengalami kenaikan dan berdampak pada lonjakan harga emas perhiasan di dalam negeri. Inflasi emas perhiasan tercatat mencapai 9,61 persen (mtm), dengan harga rata-rata melampaui Rp2 juta per gram.

“Meski demikian, tekanan inflasi yang lebih besar berhasil tertahan oleh kelompok Transportasi yang masih mengalami deflasi 0,35 persen (mtm), seiring penyesuaian harga BBM non-subsidi per 1 Februari 2026,” ujarnya.

Memasuki periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DKI Jakarta memperkuat koordinasi melalui High Level Meeting bersama Gubernur dan Wakil Gubernur. Fokus utama diarahkan pada kesiapan pasokan, kelancaran distribusi hingga wilayah Kepulauan Seribu, serta penguatan komunikasi publik guna menjaga ekspektasi masyarakat.

Berbagai langkah konkret telah dijalankan, antara lain intensifikasi Pasar Murah, keberlanjutan Program Pangan Bersubsidi, serta pemantauan harga dan stok pangan strategis di seluruh rantai distribusi. Sinergi dilakukan bersama Pemerintah Provinsi, DPRD, Badan Pangan Nasional, dan Perum BULOG untuk memastikan stabilitas harga tetap terjaga.

Dari sisi pasokan, penguatan dilakukan melalui panen padi bersama dalam skema Kerja Sama Antar Daerah (KAD) dengan Kabupaten Cianjur, aksi guyur pasokan cabai ke Pasar Induk Kramat Jati, serta penambahan pasokan daging sapi melalui impor sapi Australia oleh Perumda Dharma Jaya. Ketahanan pangan juga diperkuat melalui pengembangan urban farming, termasuk pembibitan cabai di Pulau Pramuka.

Sementara itu, distribusi pangan diperkuat melalui pengiriman rutin oleh BUMD pangan hingga ke rumah susun, didukung armada angkut dan truk berpendingin hasil kolaborasi dengan Bank Indonesia. Ke depan, strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) akan terus diperkuat guna memitigasi risiko global seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah, fragmentasi perdagangan, volatilitas harga komoditas, dan tekanan nilai tukar, serta risiko domestik berupa potensi kenaikan BBM, curah hujan tinggi, dan lonjakan permintaan Idulfitri.

“Dengan sinergi yang semakin solid dalam TPID, inflasi DKI Jakarta sepanjang 2026 diharapkan tetap terkendali dan berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen,” kata Iwan.

Rekomendasi Berita