Indonesia Re Dorong Transformasi Kolaboratif dan Kepemimpinan Adaptif

  • 25 Feb 2026 15:50 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta : Industri perasuransian nasional tengah berada dalam fase transformasi yang menuntut organisasi untuk bergerak lebih cepat, lebih presisi, dan lebih tangguh dalam menghadapi dinamika risiko yang semakin kompleks.

Volatilitas ekonomi, perubahan regulasi, tekanan kompetisi, serta meningkatnya frekuensi dan dampak risiko bencana mendorong perusahaan tidak hanya menyusun strategi yang kuat, tetapi juga memastikan strategi tersebut dijalankan secara disiplin, konsisten, dan terukur di seluruh lini organisasi.

Menjawab tantangan tersebut, Indonesia Re menyelenggarakan Indonesia Re Group Leadership Forum 2026 dengan mengangkat tema “Leading Through Transformation: Aligning Culture, Capability, and Performance”, yang merupakan forum strategis tingkat pimpinan yang mempertemukan Dewan Komisaris, Direksi, serta pimpinan eksekutif di level Kepala Divisi dan Kepala Departemen untuk menyelaraskan arah transformasi perusahaan, memperkuat eksekusi program strategis, serta memastikan peningkatan kinerja yang berkelanjutan.

Sejalan dengan arah pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045, pemerintah menekankan pentingnya peran BUMN sebagai kontributor pertumbuhan ekonomi. Menanggapi arah kebijakan tersebut, Komisaris Independen Indonesia Re, Reza Y. Siregar menyebut, dengan berada di bawah Danantara, aset negara yang dikelola oleh BUMN perlu dioptimalkan.

“Sebagai bagian dari ekosistem tersebut, RIU berkomitmen menjalankan transformasi menyeluruh guna memperkuat kapabilitas, meningkatkan daya saing, serta menghadirkan nilai tambah yang lebih besar dalam mendukung agenda Danantara Asset Management (DAM) dan pembangunan ekonomi berkelanjutan,” ujar Reza dalam keterangan resminya, Rabu, 25 Februari 2026.

Melalui forum ini, Indonesia Re Group menegaskan komitmen untuk memastikan keselarasan strategis di seluruh level kepemimpinan, khususnya dalam menerjemahkan arah transformasi yang tertuang dalam RKAP 2026 dan RJPP 2026–2030 ke dalam program kerja yang jelas, ownership yang tegas, serta ritme eksekusi yang disiplin.

Leadership Forum 2026 juga menekankan pentingnya transformasi berbasis kolaborasi lintas fungsi dan lintas entitas dalam Indonesia Re Group, termasuk penguatan sinergi antara PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) dan anak usaha, yaitu PT Reasuransi Syariah Indonesia (ReINDO Syariah), dan PT Asuransi Asei Indonesia.

Transformasi dipahami sebagai tanggung jawab kolektif seluruh organisasi mulai dari frontline executor hingga strategic leader dengan fokus pada penyelesaian hambatan lintas fungsi, percepatan pengambilan keputusan, serta penguatan budaya kepemimpinan yang adaptif. Komisaris Utama Indonesia Re, Julian Noor, menegaskan bahwa forum ini memiliki peran penting dalam memastikan strategi benar-benar berjalan secara efektif di seluruh lini organisasi.

“Forum ini menjadi ruang untuk melihat secara objektif apakah target yang telah ditetapkan benar-benar tercapai. Jika belum, maka yang kita lakukan bukan sekadar evaluasi, tetapi juga menyepakati corrective actions secara bersama. Ini penting agar transformasi tidak berhenti pada rencana, tetapi berjalan dalam praktik,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa perhatian Dewan Komisaris ke depan mencakup penguatan data dan digitalisasi, kesiapan menghadapi perubahan regulasi, serta kemampuan organisasi beradaptasi terhadap dinamika pemegang saham dan pengawasan industri.

Dalam kesempatan tersebut, Beatrix Santi Anugrah selaku Direktur Pengembangan dan Teknologi Informasi dan Plt. Direktur Keuangan & Aktuaria memaparkan perkembangan transformasi perusahaan, termasuk penyampaian Rencana Strategis Teknologi Informasi (RSTI) sebagai arah penguatan sistem dan kapabilitas digital. Selain itu, disampaikan pula progress penyelesaian sejumlah isu internal strategis di bagian keuangan serta peningkatan kualitas pelaporan keuangan sesuai ketentuan PSAK, sebagai bagian dari upaya memperkuat governance dan meningkatkan kinerja perusahaan secara berkelanjutan.

“Transformasi yang kami jalankan bukan sekadar pembaruan sistem, tetapi upaya menyeluruh untuk memastikan teknologi benar-benar menjadi enabler bagi pengambilan keputusan yang lebih cepat, akurat, dan berbasis data,” ucapnya.

Hal ini diamini oleh Direktur Teknik dan Operasi Indonesia Re, Delil Khairat, yang menyoroti pentingnya penguatan kapabilitas internal dalam menghadapi risiko ke depan yang semakin tidak terprediksi, terutama terkait perubahan iklim dan bencana alam.

“Penguatan kemampuan analisis data, pemantauan akumulasi risiko, serta kecepatan pengambilan keputusan menjadi kunci agar perusahaan mampu mengelola ketidakpastian dengan lebih baik. Pembelajaran dari pengalaman klaim besar dalam beberapa tahun terakhir mendorong kami memperkuat sistem dan kesiapan operasional secara menyeluruh,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa meskipun tahun 2025 merupakan periode yang penuh tantangan akibat anomali klaim yang signifikan, Indonesia Re tetap mampu menjaga kinerja di zona positif.

“Kekuatan perusahaan tidak ditentukan oleh fluktuasi hasil jangka pendek, tetapi oleh seberapa kokoh fondasi yang memungkinkan organisasi tetap bertahan dan bergerak maju di tengah ketidakpastian,” kata Delil Khairat.

Forum ini juga menekankan pentingnya pengembangan kepemimpinan sebagai fondasi transformasi jangka panjang. Indonesia Re Group mendorong peningkatan eksposur global bagi para pimpinan, penguatan kapabilitas people leadership dalam membangun tim yang adaptif dan kolaboratif, serta pembelajaran berbasis pengalaman langsung, coaching yang terstruktur, dan program pengembangan kepemimpinan yang berkelanjutan. Upaya ini diarahkan untuk memperkuat peran Indonesia Re Group sebagai pilar ketahanan risiko nasional yang tangguh dan berdaya saing global.

Rekomendasi Berita