BI Tambah Kuota Tukar Uang Lebaran

  • 23 Feb 2026 21:30 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Fenomena tahunan setiap menghadapi lebaran Idul Fitri, antusiasme masyarakat untuk menukarkan uang baru kembali melonjak. Demikian juga pada tahun ini, tradisi berbagi Tunjangan Hari Raya (THR) dalam pecahan rupiah yang masih “crispy” membuat layanan penukaran selalu diserbu.

Maka dari itu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut, tahun ini, Bank Indonesia (BI) resmi memperpanjang jadwal sekaligus menambah kuota penukaran uang baru agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi lebih merata.

Program Semarak Rupiah Berkah Idulfitri (SERAMBI) 2026 menghadirkan layanan penukaran terjadwal agar prosesnya tertib dan mengurangi antrean panjang. Total uang layak edar yang disiapkan mencapai ratusan triliun rupiah, dengan alokasi khusus miliaran rupiah untuk layanan penukaran uang baru. Setiap individu dapat menukar hingga batas nominal tertentu sesuai paket yang ditetapkan.

Dikutip dari laman https://www.bi.go.id/id/default.aspx , link penukaran uang baru PINTAR BI resmi tersedia di https://pintar.bi.go.id dengan jadwal pemesanan dibuka 26 Februari 2026 (Pulau Jawa) dan 27 Februari 2026 (luar Jawa) pukul 08.00 WIB. Masyarakat diminta memilih lokasi dan jadwal penukaran, mengisi data diri sesuai KTP, lalu menyimpan bukti pemesanan untuk ditunjukkan saat pengambilan uang di lokasi yang dipilih.

Selain melalui BI, layanan penukaran juga tersedia di sejumlah bank nasional seperti Bank Central Asia (BCA), Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Syariah Indonesia (BSI), serta Bank Mandiri. Prosedurnya umumnya mengharuskan nasabah membawa KTP dan mengikuti ketentuan kuota yang berlaku di masing-masing cabang.

Fenomena berburu uang baru setiap Ramadan bukan sekadar soal nominal, tetapi tentang simbol berbagi dan kebersamaan. Uang kertas baru yang rapi itu seperti metafora sederhana: lembaran baru, harapan baru. Namun di balik romantismenya, tetap ada logika distribusi dan manajemen likuiditas yang harus dijaga. Karena bahkan tradisi pun, jika tidak dikelola sistematis, bisa berubah menjadi antrean panjang dan keluhan publik.

Rekomendasi Berita