Kiat Menggapai Kebahagiaan Dunia dan Akhirat
- 12 Mar 2026 11:52 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Kebahagiaan sejati bagi seorang muslim tidak hanya diukur dari keberhasilan hidup di dunia, tetapi juga dari keselamatan dan keberuntungan di akhirat. Keduanya menjadi harapan yang selalu dipanjatkan dalam doa sehari-hari.
Hal itu disampaikan Ustaz Mustaki, Pjs. Manager SDI ID Humanity Dompet Dhuafa, dalam program Syiar Ramadan di radio 91,2 FM Pro 1 RRI Jakarta, Rabu, 11 Maret 2026.
Menurutnya, salah satu doa yang paling sering dipanjatkan umat Islam adalah doa yang terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 201, yakni “Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban nar.” Doa tersebut dikenal luas sebagai doa sapu jagat karena mencakup permohonan kebaikan di dunia sekaligus keselamatan di akhirat.
Ia menjelaskan, kehidupan akhirat memang menjadi tujuan utama karena bersifat kekal. Namun demikian, kehidupan di dunia tetap memiliki peran yang sangat penting.
“Karena kehidupan kita di akhirat sangat bergantung pada kehidupan kita di dunia. Dunia ini adalah ladang tempat kita menanam, dan hasilnya akan kita tuai di akhirat,” ujar Mustaki.
Artinya, setiap kebaikan yang ditanam di dunia akan berbuah kebaikan pula di akhirat. Sebaliknya, jika seseorang lebih banyak melakukan keburukan dan kemaksiatan, maka balasan yang diterima kelak juga tidak baik.
Dalam kesempatan itu, Mustaki juga mengutip pandangan ulama besar Imam Al-Ghazali yang membagi manusia ke dalam empat golongan terkait kebahagiaan dunia dan akhirat.
Golongan pertama adalah orang yang bahagia di dunia namun sengsara di akhirat. Mereka hidup dengan berbagai kenikmatan seperti harta dan keluarga, tetapi lupa bersyukur kepada Allah sehingga kenikmatan tersebut justru menjauhkan mereka dari ketaatan.
Golongan kedua adalah orang yang hidupnya penuh kesulitan di dunia tetapi bahagia di akhirat. Menurut Mustaki, orang seperti ini biasanya menghadapi berbagai cobaan seperti kekurangan harta atau masalah hidup, tetapi mereka menyikapinya dengan sabar dan menjadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Golongan ketiga adalah orang yang sengsara di dunia dan juga sengsara di akhirat. Hal ini terjadi ketika seseorang tidak mampu menerima ujian hidup dengan baik, bahkan sampai mencerca dan tidak ridha terhadap ketentuan Allah.
Sementara golongan keempat adalah orang yang berbahagia di dunia sekaligus di akhirat. Mereka memperoleh berbagai nikmat seperti kesehatan, harta, dan keluarga yang baik, lalu menggunakan nikmat tersebut untuk bersyukur dan semakin mendekatkan diri kepada Allah.
Mustaki menegaskan bahwa kunci untuk meraih kebahagiaan tersebut adalah bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah. Ia menjelaskan bahwa syukur memiliki tiga bentuk utama.
Pertama adalah syukur bil qalbi, yakni meyakini dalam hati bahwa semua nikmat yang diterima sejatinya berasal dari Allah. Kedua adalah syukur bil qauli, yaitu mengungkapkan rasa syukur melalui ucapan seperti mengucapkan Alhamdulillah. Ketiga adalah syukur bil af‘al, yakni menggunakan nikmat yang dimiliki untuk melakukan kebaikan dan beribadah kepada Allah.
Selain itu, ia juga mengingatkan agar umat Islam tidak meremehkan dosa. Salah satu tanda seseorang berada dalam kondisi yang tidak baik adalah mudah melupakan dosa yang telah dilakukan, seolah-olah kesalahan tersebut tidak berarti apa-apa.
“Orang yang terbiasa dalam kemaksiatan melihat dosa seperti lalat yang lewat di depan mata. Berbeda dengan orang beriman, yang ketika melakukan dosa merasa seolah-olah ada gunung yang akan menimpanya,” jelasnya.
Karena itu, Mustaki mengajak umat Islam untuk terus memperbaiki diri, memperbanyak istighfar, dan memanfaatkan setiap nikmat sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah agar dapat meraih kebahagiaan di dunia sekaligus di akhirat.