Dilema Bimbel dan Kemandirian Siswa Jadi Pembahasan di IIBF 2026

  • 02 Okt 2026 03:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Penerbit Erlangga mengupas dilema antara keikutsertaan bimbingan belajar komersial dan penguatan kemandirian literatur siswa di panggung IIBF 2026.
  • Para narasumber menegaskan bahwa buku panduan berkualitas sudah mencukupi kebutuhan belajar mandiri tanpa keharusan mengikuti les berbayar.
  • Siswa diimbau mengoptimalkan seluruh modalitas sensori serta menjaga jadwal istirahat agar pengulangan materi di rumah berlangsung efektif.

RRI.CO.ID, Jakarta Pusat - Penerbit Erlangga mengupas fenomena tren bimbingan belajar komersial yang marak diikuti para siswa sekolah. Banyak pelajar mengalami kebingungan dalam menentukan prioritas antara mengikuti les berbayar atau mendalami buku mandiri.

Diskusi edukatif tersebut mengemuka di Panggung Utama Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 Jakarta Pusat. Diskusi berlangsung di kawasan Jakarta International Convention Center (JICC) pada Kamis, 1 Oktober 2026.

Penulis buku Tes Kemampuan Akademik (TKA) Iman Santoso menilai keberhasilan murid berakar dari tekad belajar tekun. Sebagian orang tua memaksakan anak masuk bimbingan belajar tambahan karena terdorong rasa takut tertinggal pelajaran.

"Saya kira itu mungkin salah satu ya, tapi menurut saya bukan satu-satunya. Karena saya sendiri waktu dapat mengerjakan 24 soal dari 25 soal matematika itu enggak les. Saya jujur aja belajar dari buku. Jadi menurut pendapat saya tidak mesti les. Dan menurut pandangan saya, buku yang dibikin oleh Erlangga itu sudah cukup untuk kalian bisa jadi pemandu untuk bisa lebih baik," ujar Iman Santoso.

Pendidik menegaskan bahwa materi ujian nasional telah dirancang selaras dengan standar kompetensi kurikulum sekolah formal. Ketersediaan buku panduan bermutu tinggi dinilai sudah sangat mencukupi kebutuhan belajar siswa secara optimal mandiri.

Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) Farellevi Al-Fasahbari peraih nilai TKA Matematika SMA 2025 tertinggi se-Jawa Tengah turut mengomentari. Siswa yang telah memahami target pribadi dinilai tidak memerlukan pendampingan belajar tambahan berbiaya mahal tersebut.

"Tetapi ketika kalian itu masih mengetahui di mana cara kalian belajar, misal aku harus belajar sekarang apa, besok apa, masih bisa mengarahkannya, itu kalian tidak perlu untuk bimbingan belajar. Karena kan namanya bimbingan belajar ya, bimbingan yang berarti membimbing kalian bagaimana cara kalian bisa mendapatkan motivasi belajar gitu. Nah, itu yang aku hindarin, Teman-teman. Jadi saya tuh di rumah merasa bahwa aku belum les, aku belum belajar, jadi aku di rumah harus belajar, gitu," ucap Farellevi Al-Fasahbari.

Kehadiran lembaga kursus sering kali hanya berperan memberikan motivasi eksternal bagi peserta didik yang bingung. Jadwal kursus yang terlalu padat pada sore hari berisiko menguras habis stamina fisik para pelajar.

Psikolog anak dan remaja Wikan Putri Larasati mengingatkan pentingnya mengenali preferensi gaya belajar masing-masing siswa. Rasa lelah berkepanjangan memicu kepuasan semu sehingga siswa cenderung mengabaikan pengulangan materi di rumah mereka.

"Sebenarnya kan tadi sempat di-mention juga tentang gaya belajar. Sebenarnya kita setiap orang punya preferensi, kita jangan sampai mengotak-ngotakkan ya, 'Oh aku visual, kamu auditori.' Tiap orang itu preferensinya bisa beda-beda, tapi sebenarnya paling optimal adalah kita gunakan semua sebisa mungkin modalitas belajarnya kita maksimalkan. Dicoba ya, misalnya kamu baca sambil ngomong gitu ya, baca sambil merangkum, gitu," kata Wikan Putri Larasati.

Pelajar diimbau memadukan beragam modalitas panca indra saat menelaah materi buku secara mandiri di rumah. Kombinasi antara membaca nyaring dan mencatat ringkasan terbukti ampuh mendongkrak daya serap kognitif para siswa.

Tantangan belajar mandiri kerap dipicu oleh keengganan siswa membaca tumpukan teks tebal buku pelajaran sekolah. Arus informasi media sosial kerap memicu pembelian buku secara berlebihan yang berujung sekadar menjadi pajangan.

Buku cetak berkualitas tetap menjadi rujukan utama pembelajaran yang tidak tergantikan oleh saluran media digital. Mengerjakan soal latihan yang menantang secara mandiri menjadi sarana efektif dalam mengukur kapasitas pemikiran akademis.

Siswa tidak perlu merasa rendah diri apabila tidak mampu membiayai program bimbingan belajar tambahan komersial. Ketekunan pribadi yang diiringi pemilihan literatur tepat terbukti sanggup melahirkan prestasi akademik tingkat nasional membanggakan.

Penerbit Erlangga menyediakan literatur ujian berbobot demi membantu siswa menembus seleksi perguruan tinggi negeri. Kemandirian belajar teratur menjadi modal fundamental bagi pelajar demi meraih hasil kelulusan yang memuaskan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....