Pakar Edukasi Kupas Kiat Retensi Memori dan Hukum Jost di IIBF
- 02 Okt 2026 01:26 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pakar pendidikan membedah penerapan prinsip Hukum Jost untuk meningkatkan efektivitas belajar siswa.
- Praktisi mengimbau para pelajar menghindari kebiasaan begadang guna menjaga fungsi memori jangka panjang.
- Penerapan rutinitas belajar terstruktur membantu siswa meraih pemahaman materi secara optimal menjelang ujian.
RRI.CO.ID, Jakarta Pusat - Pakar pendidikan dan psikologi membedah efektivitas konsistensi belajar serta penguatan retensi daya ingat para siswa. Diskusi tersebut menyoroti bahaya laten kebiasaan begadang yang kerap dilakukan pelajar menjelang ujian.
Agenda edukatif tersebut bertempat di Panggung Utama Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 Jakarta Pusat. Ratusan pelajar memadati area Jakarta International Convention Center (JICC) pada hari Kamis, 1 Oktober 2026.
Psikolog anak dan remaja Wikan Putri Larasati memaparkan materi penting terkait metode belajar yang efektif. Pembagian durasi belajar terbukti mampu meringankan beban kerja organ otak dalam menyerap informasi baru.
"Jadi dengan misalnya total 15 jam belajar, kalau kita break-nya menjadi 3 jam per hari selama 5 hari, itu lebih baik dibanding kita belajar 5 jam dalam kurun waktu 3 hari. Ya, jadi itu namanya teori hukum Jost mengatakan bahwa lebih baik frekuensinya yang ditambah karena proses tadi kita mengulang kembali," kata Wikan.
"Itu yang bikin di sini nih kita prosesnya jadi semakin nempellah kurang lebih kayak gitu. Kita mungkin tergoda, 'Oh mau dari pagi sampai malam nih belajar,' gitu ya. Jangan, lebih baik kita jaga aja terus ya, tetap oke 3 jam, nanti misalnya besok kita 3 jam lagi," kata Wikan lagi.
Pengulangan konsep secara berkala membantu koneksi saraf mengingat materi pelajaran dalam rentang waktu lama. Kelelahan fisik akibat belajar berlebihan justru menghambat kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal penalaran rumit.
Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) Farelevi Alfasahbary peraih nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 tertinggi membagikan pengalamannya. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa menjaga stamina fisik sama pentingnya dengan menguasai beragam teori akademis.
"Karena belajar begadang itu enggak bagus untuk kesehatan yang pertama, dan yang kedua itu enggak bisa untuk memori jangka panjang. Jadi gimana belajarnya? Ya, konsisten setiap hari 1 jam, 2 jam, itu lebih baik," katanya.
"Jadi untuk ritme belajar, yang penting konsisten, tahu tujuan kalian tuh belajar tuh untuk apa. Jadi gini, belajar tuh jangan jadikan sebuah paksaan gitu," kata Levi.
Rutinitas harian yang terjaga secara stabil membuat proses belajar terasa lebih santai tanpa paksaan. Siswa yang mampu mengendalikan ritme belajar terbukti lebih siap mental menghadapi tekanan hari ujian.
Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika SMA DKI Jakarta Iman Santoso turut memberikan pandangan. Kondisi biologis tubuh memerlukan pemulihan sel secara optimal agar konsentrasi berpikir tetap berada pada puncak.
"Jadi menurut pendapat saya, selain tadi yang rutinitas belajar itu frekuensinya harus banyak dan diatur juga, betul di awal tadi Mas Levi katakan, jangan begadang. Itu intinya. Jam 03.00 ya atau jam 04.00 lah paling telat, itu belajar. Entah itu sejam mungkin seperti yang tadi dikatakan, apa namanya, yang penting frekuensinya banyak, 5 hari gitu loh, jangan sampai 3 hari tapi ya 2 jam, 3 jam gitu, sehingga otak kita ada keterbatasan," ujar Iman.
Pola istirahat yang buruk sebelum tengah malam dapat merusak fungsi organ metabolisme tubuh manusia. Kerusakan jaringan sel tersebut berdampak langsung terhadap melemahnya daya tangkap kognitif para peserta didik.
Waktu pagi hari dinilai memberikan ketenangan optimal bagi otak untuk mengolah ragam materi ujian. Pelajar diimbau segera membenahi pola belajar harian demi meraih hasil optimal pada ujian mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....