Kenali Bahaya Limbah Makanan dan Dampaknya pada Perubahan Iklim
- 29 Sep 2026 14:22 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Setiap tanggal 29 September diperingati sebagai Hari Kesadaran Internasional tentang Kerugian dan Limbah Makanan untuk meningkatkan kesadaran global terhadap kehilangan dan pemborongan pangan.
- Indonesia menghadapi persoalan sampah makanan dalam jumlah besar yang memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan sekitar.
- Dampak dari sampah makanan tidak hanya terbatas pada lingkungan lokal, tetapi juga berkontribusi pada perubahan iklim global.
RRI.CO.ID, Jakarta - Setiap 29 September diperingati sebagai Hari Kesadaran Internasional tentang Kerugian dan Limbah Makanan. Peringatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran terhadap kehilangan dan pemborongan pangan global.
Indonesia menghadapi persoalan sampah makanan dalam jumlah besar. Dampaknya tidak hanya pada lingkungan sekitar, tetapi juga iklim.
Sisa makanan yang terbuang dapat menghasilkan emisi metana saat membusuk. Gas tersebut memperburuk perubahan iklim dalam jangka pendek.
Masalah sampah makanan semakin penting di Indonesia. Melansir Universitas Negeri Semarang, Indonesia telah memasuki sinyal darurat sampah makanan sejak 2020.
Sampah makanan muncul sepanjang rantai pangan, dari produksi hingga konsumsi. Sampah tersebut terbagi menjadi dua kategori, yaitu 'left over' dan 'food waste'.
'Left over' biasanya berasal dari sisa konsumsi makanan. Sementara itu, 'food waste' berkaitan dengan kesalahan perencanaan atau manajemen produksi.
Kondisi sampah makanan Indonesia menunjukkan persoalan besar dalam pengelolaan pangan. Pada 2024, KLHK mencatat sampah makanan mendominasi 39,87 persen dari total sampah nasional.
Sampah makanan turut memperparah perubahan iklim. Melansir KLHK, sisa makanan yang menumpuk di TPA mengalami pembusukan dan menghasilkan gas metana.
Gas metana memiliki kemampuan memerangkap panas jauh lebih besar dibandingkan karbon dioksida. Penumpukan sampah organik dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca dan mempercepat pemanasan global.
Dampak perubahan iklim tersebut dapat dirasakan melalui peningkatan suhu udara. Perubahan tersebut juga memicu cuaca ekstrem, banjir, kekeringan, serta mengganggu produksi pangan.
Persoalan tersebut dapat dikurangi dengan mengubah kebiasaan sehari-hari. Misalnya, membeli makanan secukupnya dan menghabiskan makanan hingga bersih.
Pengelolaan dari rumah juga dapat membantu mengurangi sampah. Masyarakat dapat memilah sampah organik dan mengolahnya menjadi kompos.
Upaya pengurangan sampah juga perlu berjalan dari sisi produsen agar makanan tidak terbuang sejak proses produksi. Produsen perlu memperbaiki manajemen pasokan dan mengurangi kesalahan produksi yang menghasilkan makanan terbuang. (Shafa)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....