IHCBS 2026 Dorong AI Berpusat pada Manusia untuk Produktivitas

  • 18 Sep 2026 08:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Perkembangan AI mendorong perubahan besar dalam cara organisasi bekerja, mengelola talenta, dan meningkatkan produktivitas di era digital modern.
  • Kesiapan manusia, kepemimpinan yang visioner, budaya organisasi yang adaptif, dan kemampuan beradaptasi merupakan faktor kunci kesuksesan transformasi digital yang berkelanjutan.
  • Pemanfaatan teknologi AI tidak cukup hanya fokus pada kecepatan dan efisiensi, melainkan perlu diimbangi dengan strategi pengembangan sumber daya manusia yang komprehensif.

RRI.CO.ID, Jakarta - Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) mendorong perubahan besar dalam cara organisasi bekerja, mengelola talenta, dan meningkatkan produktivitas. Namun, pemanfaatan teknologi tidak cukup hanya berorientasi pada kecepatan dan efisiensi.

Kesiapan manusia, kepemimpinan, budaya organisasi, serta kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting agar transformasi digital menghasilkan manfaat yang berkelanjutan. Pesan tersebut mengemuka dalam Indonesia Human Capital & Beyond Summit (IHCBS) 2026

Dalam kesempatan itu hadir sebagai pembicara Menteri Ketenagakerjaan Yassierli. Dalam sesi Grand Keynote ia memaparkan “Closing the ASEAN Gap: A 'People Centered' Policy Framework for National Competitiveness”.

Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya kebijakan yang berpusat pada manusia dalam memperkuat daya saing nasional. Menurut Yassierli, perubahan teknologi dan AI membawa konsekuensi terhadap struktur pekerjaan sekaligus kebutuhan kompetensi tenaga kerja.

Oleh karena itu, ia mengatakan penerapan AI perlu dibarengi strategi pengembangan manusia. “Alih-alih sekadar menggantikan pekerjaan, AI mengubahnya dengan cara-cara yang secara fundamental berbeda,” ujar Yassierli.

Pandangan tersebut sejalan dengan pembahasan Paul Choo, CHRO Bridgestone Asia Pacific. Ia memaparkan “Best Practices of Human Centric Practices: an Asia Pacific Perspective.”

Paul menjelaskan, AI dapat menjadi fasilitator untuk mendesain ulang pekerjaan dan organisasi. Karena itu, lanjutnya, transformasi perlu mencakup peningkatan kapasitas tenaga kerja, transformasi fungsi HR, desain ulang pekerjaan dan alur kerja.

“AI tidak sekadar mengubah pekerjaan, AI mengubah bagaimana alur kerja mengalir di dalam organisasi. Anda perlu merancang ulang alur kerja dengan menempatkan manusia dan AI sebagai pusatnya,” kata Paul.

Perspektif penguatan kapasitas manusia juga muncul dalam sesi National Inspire bersama Managing Director HC Danantara Aset Manajemen Agus Dwi Handaya. Ia memaparkan topik “PeopleMath = Formula Transformasi Future Ready Workforce, Korporasi dan Bangsa”.

Agus memperkenalkan pendekatan PeopleMath untuk melihat kinerja manusia secara lebih menyeluruh. “Angka menunjukkan apa yang kita capai, manusia yang bertumbuh menunjukkan apa yang kita wariskan,” ujarnya.

Hal yang sama disampaikan President Commissioner Mayapada Healthcare, dan Pushkar Saran, Executive Director ETS for Institutional Programs in Southeast Asia Jonathan Tahir. Ia menyoroti pentingnya menyesuaikan standar global dengan kebutuhan nasional.

Menurut Jonathan, praktik terbaik dari luar negeri tidak selalu dapat diterapkan secara langsung. Organisasi perlu menyesuaikan standar global dengan konteks lokal agar menghasilkan daya tahan dan kapasitas yang relevan.

Pada hari kedua, IHCBS 2026 memperluas pembahasan mengenai hubungan AI, talenta, dan produktivitas. Chairman of Steering Committee GNIK Yunus Triyonggo menyampaikan tiga pelajaran utama dari hari pertama, yakni pentingnya kolaborasi, masifnya perkembangan AI, dan kebutuhan continuous learning.

Dalam forum tersebut hadir juga sebagai pembicara Dave Ulrich. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh utama dalam pengembangan manajemen sumber daya manusia modern.

Ia memaparkan sesi “Talent Advantage = AI x HI: Harnessing Human Ingenuity to Unlock Next-Level Productivity”. Dave menekankan, keunggulan talenta ke depan tidak hanya bergantung pada kemampuan menggunakan AI, tetapi juga pada human ingenuity

Kemampuan manusia dalam membangun visi, berinovasi, memahami hubungan sosial, serta menggunakan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan tetap menjadi bagian penting dalam organisasi.

“HI (Kecerdasan Manusia/Human Ingenuity) adalah tentang manusia. HI mencakup visi masa depan, inovasi di masa kini, emosi atau empati dalam menjalin hubungan,” ujar Dave.

Dampak AI terhadap kesempatan kerja turut dibahas dalam Battle Session bertajuk “AI vs Human Leadership: Does Investment in Technology Hurt Employment Opportunities?”. Sesi ini menghadirkan Founder Jobseeker Company Chandra Ming dan Staf Ahli Kementerian Ketenagakerjaan Estiarty Haryani.

Chandra menilai perubahan akibat AI perlu diantisipasi melalui kesiapan tenaga kerja. Sementara Estiarty menegaskan bahwa AI merupakan salah satu alat yang tidak secara otomatis mengurangi kesempatan kerja.

“AI sebagai salah satu tools dan tidak automatically mengurangi kesempatan kerja tetapi kita perlu meng-counter kemungkinan ini terjadi. Perlu mengidentifikasi kompetensi yang diperlukan untuk menjawab perubahan teknologi untuk meningkatkan produktivitas,” ujar Estiarty.

Isu kesiapan menghadapi persaingan di era AI juga dibahas CIO Danantara Pandu Patria Sjahrir. Ia memaparkan terkait “Investing in Digital Infrastructure to Accelerate the Productivity Ecosystem"

Menurut Pandu, Indonesia perlu membangun rasa urgensi. Hal ini agar mampu menghadapi persaingan global yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi.

Sebagai informasi, IHCBS 2026 diinisiasi oleh Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK), OneGML, QuBisa, dan Kontan. Acara ini berlangsung pada 15–16 September 2026 di NICE PIK 2, Tangerang.

Forum ini mengusung tema “Harnessing Human-Centric AI and Digitalization to Unlock Next-Level Productivity”. Forum ini mempertemukan sekitar 6.000 peserta dari sektor swasta, pemerintahan, akademisi, dan praktisi human capital.

IHCBS 2026 sendiri menghadirkan lebih dari 70 pembicara nasional dan internasional untuk membahas sejumlah hal. Mulai dari perubahan dunia kerja, pengembangan kompetensi, kepemimpinan, produktivitas, hingga strategi organisasi menghadapi perkembangan AI.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....