Pusat Massa Bumi ternyata “Bergoyang” akibat Perubahan Musim

  • 17 Sep 2026 13:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Perubahan musim menggeser pusat massa Bumi beberapa milimeter dari pusat geometris.
  • Pergeseran dipengaruhi perpindahan massa air, es, lautan, dan atmosfer.
  • Metode baru NASA meningkatkan akurasi pengukuran untuk navigasi dan pemetaan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Perubahan musim membuat pusat massa Bumi bergeser beberapa milimeter dari pusat geometris planet. Mengutip NASA, Kamis, 17 September 2026, pergeseran ini dipengaruhi perpindahan massa air, es, dan udara di berbagai wilayah.

Tim ilmuwan NASA Jet Propulsion Laboratory mengembangkan metode baru untuk mengukur pergeseran tersebut dengan tingkat presisi tinggi. Hasil menunjukkan, pusat massa Bumi bergerak bolak-balik mengikuti perubahan musim.

Adapun, pergerakannya diperkirakan hanya sekitar setengah dari perkiraan ilmuwan delapan tahun sebelumnya. Pusat massa Bumi menjadi acuan penting dalam navigasi satelit dan pengukuran ketinggian.

Hal ini berbeda dengan benda padat yang pusat massa dan pusat geometrisnya berada di lokasi yang sama. Bumi terus mengalami perubahan distribusi massa akibat pergerakan air, es, dan atmosfer.

Peneliti JPL, Donald Argus, memimpin pengembangan metode baru dengan memanfaatkan pelacakan satelit berpresisi tinggi. Metode tersebut menggabungkan GPS, informasi orbit satelit-satelit di orbit rendah Bumi, serta pengaruh perubahan massa air dan es.

Mereka menemukan tiga faktor utama yang memengaruhi pergeseran pusat massa Bumi, yaitu lautan, atmosfer, dan air di daratan. Air di daratan mencakup es, salju, air sungai dan danau, kelembapan tanah, serta air tanah.

Pada Maret tahun lalu, akumulasi salju di Amerika Utara dan Eurasia mencapai puncaknya. Hal ini membuat pusat massa Bumi bergeser sekitar tiga milimeter ke arah Kutub Utara.

Sebulan kemudian, curah hujan di wilayah Amazon mencapai sekitar 2.400 gigaton. Kondisi ini menggeser pusat massa sekitar 2,2 milimeter menuju Amerika Selatan.

Sementara itu, air akibat musim hujan di Asia Tenggara mencapai puncaknya sekitar November dengan massa sekitar 600 gigaton. Perubahan massa lautan juga berpengaruh, terutama antara Agustus-Oktober dan menggeser pusat massa menuju kawasan Pasifik Selatan.

Tak hanya itu, perubahan atmosfer turut memberikan pengaruh. Udara musim dingin yang lebih dingin dan padat menggeser distribusi massa di wilayah Arab, Asia, dan Afrika Utara sekitar 21 Desember.

Hasil perhitungan tersebut konsisten dengan pengamatan misi GRACE-FO. Ini merupakan satelit untuk memetakan perubahan medan gravitasi Bumi akibat perpindahan massa air di permukaan maupun bawah tanah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....