Waspadai Telegram Jadi Ruang Penyebaran Konten Pornografi Anak
- 17 Sep 2026 10:08 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Telegram menjadi salah satu ruang penyebaran konten pornografi anak melalui grup tertutup dengan sistem keanggotaan berbayar.
- Pelaku memanfaatkan grooming secara psikologis dengan membangun kepercayaan anak melalui media sosial dan permainan daring.
- Edukasi dan pengawasan digital diperlukan agar anak mampu mengenali pendekatan mencurigakan serta menjaga informasi pribadinya.
RRI.CO.ID, Jakar- Pemantauan media sosial menunjukkan Telegram menjadi salah satu ruang penyebaran konten pornografi anak yang cukup masif saat ini. Founder Drone Emprit, Ismail Fahmi mengatakan grup tertutup tersebut menawarkan akses berbayar, dengan anggota mencapai puluhan ribu.
Menurutnya, sejumlah grup mengenakan biaya sekitar Rp25 ribu hingga Rp100 ribu untuk memperoleh konten pornografi anak secara ilegal. Temuan itu juga telah mengarah pada identifikasi sejumlah pihak oleh Bareskrim Polri dalam penanganan kasus terkait jaringan tersebut.
"Telegram menjadi tempat yang cukup besar, karena grupnya tertutup dan berbayar untuk menyebarkan konten pornografi anak. Media sosial terbuka menjadi ruang awal grooming, sebelum korban diarahkan menuju kanal berbayar yang lebih gelap kemudian," katana dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Kamis, 17 September 2026.
Ia menjelaskan pelaku memanfaatkan media sosial terbuka untuk membangun kepercayaan sebelum meminta foto atau video pribadi anak tersebut. Setelah korban percaya, pelaku dapat mengeksploitasi materi tersebut dan menjualnya kembali melalui kanal tertutup dengan sistem pembayaran tertentu.
Ia menilai anak-anak memiliki kemampuan menggunakan teknologi cukup baik, tetapi belum tentu mampu mengenali penyamaran pelaku dewasa tersebut. Kondisi tersebut dimanfaatkan pelaku dengan pendekatan psikologis, termasuk melalui aktivitas yang dekat dengan keseharian anak seperti permainan daring.
"Anak-anak lebih terbiasa menggunakan teknologi, tetapi belum tentu mampu mengenali orang dewasa yang menyamar di internet. Kelemahan itu kemudian dimanfaatkan secara psikologis, terutama ketika pelaku mendekati anak melalui permainan daring yang mereka sukai sehari-hari," ujarnya.
Dalam permainan daring, pelaku dapat memanfaatkan kebutuhan tertentu untuk memperoleh item, ikon, atau kemudahan sebagai pintu pendekatan awal. Pendekatan tersebut membuat interaksi terlihat wajar, sebelum pelaku perlahan membangun komunikasi pribadi dan mengarahkan anak pada permintaan tertentu.
Ia menekankan pola tersebut menunjukkan pentingnya pengawasan terhadap ruang digital yang digunakan anak untuk berkomunikasi dan bermain sehari-hari. Orang tua dan lingkungan sekitar perlu memahami pola grooming agar tanda-tanda pendekatan mencurigakan dapat dikenali anak sejak dini.
"Anak-anak perlu dibekali kemampuan mengenali pendekatan mencurigakan, sementara pengawasan harus berjalan tanpa memutus ruang aman mereka. Edukasi digital penting agar anak memahami batasan berbagi foto, video, serta informasi pribadi ketika berinteraksi secara daring," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....