AI Dorong Efisiensi Layanan Kesehatan di Indonesia

  • 14 Sep 2026 15:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kecerdasan buatan atau AI mulai memberikan dampak nyata terhadap layanan kesehatan Indonesia.
  • Sebanyak 88 persen tenaga kesehatan menyebut AI meningkatkan efisiensi alur kerja

RRI.CO.ID, Jakarta – Kecerdasan buatan atau AI mulai memberikan dampak nyata terhadap layanan kesehatan Indonesia. Hal itu terungkap dalam laporan Future Health Index 2026 edisi ke-11 yang diluncurkan Philips.

Sebanyak 88 persen tenaga kesehatan menyebut AI meningkatkan efisiensi alur kerja. Sementara, sebanyak 69 persen juga mengaku AI meningkatkan kapasitas pelayanan kepada pasien.

Sebanyak 87 persen tenaga kesehatan melaporkan akses hasil diagnosis lebih cepat. Sementara 82 persen menyebut AI mempercepat pengambilan keputusan terkait diagnosis.

Presiden Direktur Philips Indonesia Astri Ramayanti Dharmawan mengatakan, pembahasan AI kini memasuki tahap baru. “AI telah membantu tenaga kesehatan memiliki lebih banyak waktu dan memperkuat pengambilan keputusan,” ujar Astri dalam keterangan tertulis, Jakarta, Senin, 14 September 2026.

Menurut Astri, manfaat AI perlu diterjemahkan menjadi peningkatan layanan kesehatan berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya integrasi AI, data tepercaya, peningkatan kemampuan tenaga kesehatan, dan pengawasan manusia.

Presiden Direktur Siloam International Hospitals David Utama mengatakan AI paling bermanfaat ketika terintegrasi dalam alur kerja klinis. “AI membantu tenaga kesehatan mengambil keputusan lebih cepat dan tepat,” kata David.

David menegaskan teknologi harus memperkuat kemampuan klinis, sementara tenaga kesehatan tetap memegang kendali. Menurutnya, penerapan AI membutuhkan kepemimpinan klinis, data tepercaya, tata kelola, dan kolaborasi ekosistem kesehatan.

Meski manfaatnya mulai terlihat, kesiapan penerapan AI masih menjadi tantangan. Sebanyak 55 persen tenaga kesehatan menyebut pelatihan AI sulit diperoleh, terbatas, atau tidak merata.

Sebanyak 62 persen responden juga menyebut belum tersedia proses jelas untuk memantau penggunaan AI. Karena itu, penerapan AI membutuhkan validasi, audit, pemantauan, serta tata kelola yang jelas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....