Dua Buku Transformasi Umat Hindu Resmi Diluncurkan

  • 14 Sep 2026 01:37 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Yayasan Puri Kauhan Ubud meluncurkan dua buku pemikiran Hindu karya AAGN Ari Dwipayana di Jakarta.
  • Buku Tandur Taru Urip dan Panca Kertha membahas penguatan akar tradisi serta agenda transformasi kelembagaan.
  • Tiga rektor perguruan tinggi keagamaan membedah gagasan masa depan keumatan menjelang pelaksanaan Mahasabha XIII PHDI.

RRI.CO.ID, Jakarta - Yayasan Puri Kauhan Ubud meluncurkan dua buku mengenai transformasi kebudayaan dan organisasi Hindu Nusantara. Acara bedah karya literasi tersebut berlangsung pada Minggu, 13 September 2026.

Kegiatan diskusi literasi terpusat di Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang berlokasi di Jakarta. Dua karya tulis tersebut mengusung judul Tandur Taru Urip serta manifesto pemikiran Panca Kertha.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Nasruddin Djoko Surjono membuka acara. Tiga rektor perguruan tinggi Hindu bertindak membedah naskah bersama pemandu diskusi Teddy C. Putra.

Para pembedah buku mencakup I Gede Suwindia, Cokorda Gde Bayu Putra, dan I Wayan Wirata. Sejumlah pejabat kementerian serta pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat turut menghadiri forum.

Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud AAGN Ari Dwipayana menjelaskan konsep dasar penulisan buku karyanya. Naskah Tandur Taru Urip merangkum orasi ilmiah mengenai perjumpaan ilmu pengetahuan, agama, serta tradisi kebudayaan.

“Mengakar kuat bukan berarti kembali ke masa lalu. Menjulang tinggi juga bukan berarti meninggalkan akar,” kata Ari.

Ari menegaskan persatuan keagamaan Nusantara tidak boleh mengarah pada penyeragaman tradisi kearifan umat setempat. Buku Panca Kertha memuat rumusan lima agenda perubahan menjelang pelaksanaan Mahasabha XIII PHDI mendatang.

“Eka Twa, Aneka Twa, Swalaksana Bhatara—satu dalam hakikat, beragam dalam ekspresi dan jalan pengabdian,” ujar Ari.

Ia menyebutkan bahwa seluruh umat membutuhkan akar sejarah yang kuat sekaligus rumah kelembagaan bersama. Pembaruan tata kelola kelembagaan diharapkan mampu memulihkan marwah serta memberdayakan seluruh masyarakat secara berkelanjutan.

“Mari kita rawat akar, kita kuatkan rumah bersama, dan kita tumbuhkan masa depan Hindu Nusantara. Mengakar kuat, menjulang tinggi. Pulihkan marwah, satukan umat, rawat kebhinnekaan, benahi tata kelola, dan berdayakan umat,” ucap Ari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....