BRIN Tawarkan Fasilitas Riset Indonesia untuk Periset Negara BRICS

  • 25 Agt 2026 00:22 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BRIN menawarkan infrastruktur dan fasilitas riset unggulan Indonesia kepada periset negara anggota BRICS untuk memperluas kolaborasi riset internasional.
  • Tawaran ini disampaikan oleh Kepala BRIN Arif Satria saat menghadiri The 14th BRICS Science, Technology and Innovation (STI) Ministerial Meeting di Chennai, India pada 21 Agustus 2026.
  • Langkah Indonesia bertujuan untuk memperkuat kerja sama riset dan inovasi serta mengembangkan kolaborasi baru di berbagai bidang strategis dengan negara-negara BRICS.

RRI.CO.ID, Jakarta: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menawarkan pemanfaatan infrastruktur dan fasilitas riset unggulan Indonesia kepada para periset negara anggota BRICS. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Indonesia memperluas kolaborasi riset internasional sekaligus membuka peluang pengembangan penelitian bersama pada berbagai bidang strategis.

Tawaran tersebut disampaikan Kepala BRIN Arif Satria saat menghadiri The 14th BRICS Science, Technology and Innovation (STI) Ministerial Meeting di Chennai, India, Jumat 21 Agustus 2026. Pertemuan yang dihadiri negara-negara anggota BRICS itu menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat kerja sama riset dan inovasi serta mengembangkan kolaborasi baru di berbagai bidang strategis.

Dalam forum tersebut, Arif memperkenalkan kebijakan sains, teknologi, dan inovasi Indonesia serta sejumlah infrastruktur dan fasilitas riset unggulan BRIN. Fasilitas tersebut terbuka untuk dimanfaatkan bersama oleh periset BRIN, perguruan tinggi, industri, maupun periset dari negara-negara anggota BRICS.

“Indonesia membuka infrastruktur dan fasilitas riset unggulan BRIN untuk dimanfaatkan bersama oleh periset, perguruan tinggi, industri, serta periset dari negara-negara anggota BRICS. Kami ingin akses terhadap fasilitas riset ini semakin memperkuat mobilitas periset dan mendorong lahirnya kolaborasi riset yang konkret,” ujar Arif.

Menurut Arif, keterbukaan fasilitas riset menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem penelitian internasional. Kolaborasi tersebut diarahkan tidak hanya pada pemanfaatan infrastruktur, tetapi juga pada peningkatan interaksi dan mobilitas peneliti sehingga dapat melahirkan kegiatan penelitian bersama yang lebih konkret.

Hal ini sejalan dengan penegasan Indonesia dalam forum tersebut bahwa sains, teknologi, dan inovasi menjadi salah satu instrumen utama untuk menjawab berbagai tantangan nasional dan mendukung pencapaian Indonesia Emas 2045. Tidak hanya menawarkan akses terhadap infrastruktur riset, BRIN membawa tiga aktivitas penelitian dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia untuk dikolaborasikan dengan negara-negara BRICS.

Ketiganya adalah Research and Workshop on Time-domain Astrophysics, Expedition of Terrestrial Geological Field Training for Disaster Mitigation, serta Training on Indonesian Biodiversity Structural Biology. Ketiga program tersebut mencerminkan keunggulan sekaligus kebutuhan strategis Indonesia pada bidang astrofisika, kebumian dan mitigasi bencana, serta biodiversitas.

Kerja sama melalui BRICS diharapkan dapat diarahkan pada kegiatan yang memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia. “Kita ingin kerja sama BRICS menghasilkan kegiatan yang memberikan manfaat langsung, baik dalam pengembangan ilmu pengetahuan maupun peningkatan kapasitas sumber daya manusia,” kata Arif.

Indonesia tidak hanya ingin menjadi bagian dari kolaborasi, tetapi juga menawarkan kapasitas, fasilitas, pengetahuan, dan peluang kerja sama yang dapat dikembangkan bersama. Di sela rangkaian BRICS STI Ministerial Meeting, Arif juga mengunjungi Indian Institute of Technology Madras (IIT Madras) untuk menjajaki peluang kerja sama pada sejumlah teknologi strategis.

Bidang yang menjadi perhatian antara lain aerospace, artificial intelligence, serta quantum information and computing. Penjajakan tersebut sejalan dengan perhatian terhadap penguatan kerja sama Indonesia dan India, terutama dalam pengembangan teknologi strategis dan sumber daya manusia.

Salah satu hal yang menjadi perhatian BRIN dalam kunjungan tersebut adalah model pengelolaan IIT Madras Research Park (IITM-RP). Menurutnya, kawasan itu menjadi salah satu contoh pengembangan dan komersialisasi teknologi berbasis riset di India dengan menghubungkan ekosistem perguruan tinggi, riset, industri, dan perusahaan rintisan.

Model tersebut kata Arif, menunjukkan bagaimana research park dapat berkembang lebih dari sekadar ruang interaksi antara perguruan tinggi dan industri. Dengan fokus pada inkubasi teknologi berbasis riset mendalam atau deep-tech, lebih dari 70 persen inovasi yang diinkubasi di IITM-RP mampu berkembang menjadi produk yang memiliki nilai jual dan siap dimanfaatkan.

Selain itu menurut Arif, pengalaman tersebut menjadi salah satu pembelajaran dalam penguatan dan pengembangan Kawasan Sains dan Teknologi (KST) BRIN. Pengembangan KST diarahkan sebagai bagian dari ekosistem riset dan inovasi nasional yang mampu semakin mendekatkan hasil penelitian dengan kebutuhan industri dan masyarakat.

Agenda lain yang menjadi perhatian adalah teknologi antariksa. BRIN menjajaki kolaborasi dengan IIT Madras untuk memperkuat penguasaan teknologi antariksa sekaligus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, khususnya pada teknologi roket.

Kerja sama tersebut diharapkan dapat mendukung agenda pengembangan ekosistem dan infrastruktur keantariksaan Indonesia, termasuk pengembangan bandar antariksa. Pengembangan teknologi antariksa juga diarahkan agar memberikan manfaat yang lebih luas.

Peningkatan kapasitas sumber daya manusia lokal menjadi perhatian agar masyarakat di sekitar lokasi pengembangan bandar antariksa dapat mengambil bagian dalam berbagai aktivitas dan peluang yang muncul dari pengembangan sektor tersebut. “Pengembangan teknologi antariksa tidak hanya berkaitan dengan bagaimana kita menguasai teknologinya yang juga penting adalah bagaimana pengembangan tersebut mampu menciptakan manfaat ekonomi, membuka peluang kerja, serta membangun kapasitas masyarakat,” ujar Arif.

Selain menghadiri forum BRICS dan mengunjungi IIT Madras, Arif memanfaatkan kunjungan kerja di India untuk berkomunikasi dengan negara-negara anggota BRICS lainnya. Pertemuan tersebut diarahkan untuk memperkuat kerja sama yang telah berjalan sekaligus mengidentifikasi peluang kolaborasi baru pada berbagai bidang strategis. (pur)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....