BRIN Optimistis Kuasai Teknologi Roket Dua Tingkat, Bidik Uji Terbang 2029

  • 20 Agt 2026 14:08 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

Pengembangan roket dua tingkat menjadi salah satu fokus riset teknologi roket BRIN menuju target uji terbang pada 2029. Dalam peta jalan terbaru, sejumlah teknologi kunci disiapkan secara bertahap, mulai dari motor roket RX 450, sistem separasi, sistem kontrol, hingga telemetri.

Pengembangan tersebut mendapat dukungan melalui Program Riset Invitasi Strategis (PRIS). Skema pendanaan ini memberikan ruang bagi periset untuk menjalankan tahapan riset sesuai dengan target yang telah disusun dalam peta jalan pengembangan roket dua tingkat.

“Kehadiran PRIS sangat membantu dan membuat teman-teman periset semakin bersemangat dalam menjalankan riset. Dukungan ini turut membuka ruang bagi periset untuk fokus pada pencapaian teknologi kunci. Salah satunya adalah pengembangan motor roket RX 450 yang menjadi bagian penting dalam peta jalan pengembangan roket dua tingkat,” kata Kepala Pusat Riset Teknologi Roket (PRTR) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Nur Hakim, dalam Town Hall Meeting Peta Jalan Penerbangan dan Keantariksaan, Jumat (14/8/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Arif memaparkan peta jalan terbaru pengembangan roket dua tingkat yang disusun berdasarkan evaluasi capaian teknologi terkini. Peta jalan tersebut menargetkan uji terbang pada 2029. Ia menjelaskan, penyesuaian tahapan dilakukan sebagai bagian dari proses pematangan riset agar peta jalan lebih solid dan realistis, terutama dalam penguasaan teknologi kunci seperti sistem kontrol dan telemetri.

“Peta jalan tersebut disusun berdasarkan asumsi dan tingkat penguasaan teknologi pada saat itu. Setelah dilakukan evaluasi, setiap tahapan perlu dipastikan dapat dikuasai dengan baik, terutama dalam mendukung pencapaian dan perolehan data yang dibutuhkan,” ia menjelaskan.

Menurut Arif, tahapan menuju 2029 sudah disusun secara bertahap dan terukur. Pada 2026, tim akan merampungkan desain roket dua tingkat secara keseluruhan sekaligus desain sistem separasi, dengan dukungan anggaran PRIS untuk mengembangkan motor roket RX 450 berjangkau 100 km. Kemudian, dilanjutkan dengan review desain kritis (Critical Design Review/CDR) roket dua tingkat, uji statis motor roket berperforma tinggi, serta uji terbang sistem separasi pada 2027.

Tahapan berlanjut pada 2028 dengan uji terbang roket tingkat pertama dan tingkat kedua secara terpisah. Pengujian tersebut menjadi bagian dari persiapan sebelum pelaksanaan uji terbang roket dua tingkat secara utuh pada 2029. Hal ini merupakan pencapaian yang akan menjadi tonggak penting kemandirian teknologi roket nasional.

Selain program roket, Arif juga memaparkan perkembangan pembangunan Bandar Antariksa yang diamanatkan undang-undang. Untuk mempercepat realisasinya, BRIN kini menggandeng mitra investor strategis, dengan dua mitra yang saat ini tengah aktif bergerak. Satu berfokus pada segmen roket besar, dan satu lagi pada segmen roket kecil.

Arif menjelaskan, kolaborasi ini kini memasuki tahap konsolidasi kesepakatan antara BRIN dan para mitra. Tahun ini, tim menargetkan penyelesaian desain dasar Bandar Antariksa, yang akan dilanjutkan dengan pemagaran lahan dan pembangunan fasilitas dasar pada tahun berikutnya, seiring proses penyelesaian regulasi dan perjanjian kerja sama dengan negara mitra.

Ia menegaskan, proses konsolidasi lintas negara dalam proyek strategis seperti pembangunan bandar antariksa membutuhkan kehati-hatian dan waktu. Proses tersebut juga lazim dilakukan oleh berbagai negara dalam membangun kapabilitas keantariksaan.

Pemaparan Kepala PRTR dalam Town Hall Meeting Peta Jalan Penerbangan dan Keantariksaan menunjukkan upaya BRIN dalam memperkuat peta jalan riset roket dan pembangunan bandar antariksa. Upaya tersebut sejalan dengan agenda strategis penguatan pertahanan dan kemandirian teknologi keantariksaan nasional. (dv/Ed:MM)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....