Kurang dari 10 Persen Jamur Dunia Bisa Dikonsumsi, BRIN Ungkap Potensi Tersembunyi
- 28 Sep 2026 00:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Jamur pangan mengandung 19-35 persen protein, menjadikannya sumber protein yang signifikan dalam pengembangan pangan fungsional.
- Selain protein, jamur juga kaya akan vitamin, mineral, dan serat yang mencapai 7,4-24,6 persen per berat jamur.
- Peneliti BRIN sedang mengembangkan potensi jamur sebagai pangan fungsional dengan memanfaatkan senyawa aktif yang terdapat di dalamnya.
RRI.CO.ID, Jakarta - Selama ini jamur pangan dikenal sebagai bahan makanan yang lezat dan mudah diolah. Namun, di balik bentuknya yang sederhana, jamur menyimpan potensi gizi dan senyawa aktif yang dapat dikembangkan sebagai pangan fungsional.
Peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Iwan Saskiawan, mengungkap bahwa jamur rata-rata mengandung 19-35 persen protein, berbagai vitamin dan mineral, serta serat yang mencapai 7,4-24,6 persen.
Dalam podcast Kelas Periset BRIN di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Ir. Soekarno, Cibinong, Rabu 16 September 2026, Iwan menyebutkan sekitar 10 ribu jenis jamur di dunia atau kurang dari 10 persen yang dapat dikonsumsi. “Dari sekitar sepuluh ribuan jamur yang ada di muka bumi ini, hanya sekitar kurang dari 10 persen spesies yang dapat dimakan atau edible,” ujarnya.
Jamur pangan yang selama ini dikonsumsi, kata Iwan, merupakan tubuh buah dari jamur berukuran makroskopis. Jamur tidak memiliki klorofil sehingga tidak dapat menghasilkan makanan sendiri.
Untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, jamur menghasilkan enzim yang menguraikan senyawa kompleks di lingkungan sekitarnya menjadi senyawa sederhana yang dapat diserap.
Kaya Protein dan Beragam Nutrisi
Potensi jamur sebagai pangan semakin menarik jika dilihat dari kandungan nutrisinya. Berdasarkan hasil penelitiannya, Iwan menyebutkan rata-rata jamur mengandung 19-35 persen protein, lebih tinggi dibandingkan beras yang sekitar 7,38 persen dan gandum 13,2 persen.
Selain itu, kata Iwan, jamur juga mengandung sekitar sembilan jenis asam amino esensial, sementara sekitar 72 persen kandungan lemaknya merupakan lemak tidak jenuh. Selain protein dan asam amino, menurut Iwan, jamur mengandung berbagai vitamin, seperti vitamin B1, B2, niasin, dan biotin, serta mineral antara lain kalium, fosfor, kalsium, natrium, magnesium, dan tembaga.
“Kandungan seratnya yang berkisar 7,4-24,6 persen juga menjadikan jamur sebagai salah satu bahan pangan yang dapat mendukung kebutuhan serat, dengan kandungan kalori yang relatif rendah,” ucapnya. Salah satu jenis jamur yang telah banyak dikonsumsi dan dibudidayakan di Indonesia adalah jamur tiram (Pleurotus sp.).
Iwan menjelaskan, jamur ini mengandung protein sekitar 19-30 persen, karbohidrat 50-60 persen, asam amino, berbagai vitamin B dan vitamin C, serta sejumlah mineral seperti kalsium, besi, magnesium, fosfor, kalium, sulfur, dan seng. Menariknya, jamur tiram juga mengandung pleuran, senyawa gula sederhana yang disebut memiliki aktivitas antioksidan.
Kandungan tersebut menjadi salah satu alasan jamur tiram dapat dikategorikan sebagai salah satu pangan fungsional. “Jamur tiram mengandung senyawa pleuran, senyawa gula sederhana yang mempunyai aktivitas antioksidan. Karena kandungan dan manfaat tersebut, jamur tiram dapat dikategorikan sebagai salah satu pangan fungsional,” jelas Iwan.
Dari Meja Makan Menuju Bioprospeksi
Di Indonesia, jamur tiram dan jamur kuping menjadi beberapa jenis jamur kayu yang banyak dibudidayakan. Masyarakat juga telah mengenal berbagai jamur yang diperoleh dari alam, antara lain jamur bulan (Termitomyces sp.), jamur grigit (Schizophyllum commune), dan jamur pelawan (Heimioporussp.).
Potensi tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan jamur tidak harus berhenti sebagai komoditas pangan. Keanekaragaman hayati Indonesia membuka peluang untuk mengembangkan jamur melalui pendekatan bioprospeksi, yakni menggali potensi sumber daya hayati untuk menghasilkan produk dan manfaat baru.
Iwan menyontohkan pemanfaatan jamur tiram dalam penanganan gizi buruk balita yang dilakukan seorang bidan desa, Sunarti, penerima Srikandi Award 2012 dari Kementerian Kesehatan.
Jamur tiram diolah menjadi berbagai makanan untuk dikonsumsi balita, menunjukkan fleksibilitas jamur sebagai bahan pangan untuk berbagai kelompok usia. Ke depan, menurut Iwan, Indonesia perlu memperkuat penguasaan mushroom science agar potensi jamur dapat dikembangkan secara lebih terarah.
Kolaborasi penelitian dengan industri budidaya jamur dan perusahaan farmasi juga diperlukan untuk mendorong pengembangan bioprospeksi jamur pangan. “Indonesia dengan keanekaragaman hayatinya yang tinggi masih menyimpan potensi pengembangan jamur pangan baik untuk bahan pangan fungsional ataupun sebagai bahan baku obat, penguasaan ilmu tentang jamur pangan (mushroom science) diperlukan dalam hal ini,” ujar Iwan mengakhiri. (wt/ed:ade,ugi)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....