Kepadatan Orbit Meningkat, BRIN Dorong Pengelolaan Antariksa Berkelanjutan

  • 31 Jul 2026 09:38 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Peneliti Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Ery Fitrianingsih, mengatakan kepadatan orbit LEO menjadi tantangan bagi ekosistem antariksa
  • Penelitian juga mencakup pemantauan objek antariksa, desain satelit ramah lingkungan, dan teknologi mitigasi sampah antariksa
  • Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN Robertus Heru Triharjanto

RRI.CO.ID, Bogor - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pengelolaan antariksa berkelanjutan. Langkah tersebut diperlukan seiring meningkatnya kepadatan satelit di orbit rendah Bumi atau Low Earth Orbit (LEO).

Peneliti Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Ery Fitrianingsih, mengatakan kepadatan orbit LEO menjadi tantangan bagi ekosistem antariksa. Menurutnya, diperlukan kesadaran bersama untuk menghadapi kondisi tersebut.

"Tujuan utama kolokium ini membangun kesadaran bersama mengenai tantangan orbit LEO di masa depan. Kita perlu mengubah paradigma dalam aspek teknis, kebijakan, hingga operasional," kata Ery dikutip dalam laman brin.go.id, Jumat, 31 Juli 2026.

Hal tersebut disampaikan Ery dalam Kolokium Series #7 bertema "Surviving a Congested LEO Future". Kegiatan tersebut membahas perubahan paradigma menuju operasi antariksa yang aman dan berkelanjutan.

Ery mengatakan forum tersebut menjadi sarana memperkuat kapasitas riset bidang Space Situational Awareness (SSA). Penelitian juga mencakup pemantauan objek antariksa, desain satelit ramah lingkungan, dan teknologi mitigasi sampah antariksa.

"Bagi operator satelit, keselamatan antariksa perlu didukung transparansi data lintasan secara real-time. Operator juga perlu menerapkan manuver penghindaran tabrakan serta menyiapkan rencana deorbit," ujar Ery.

Menurut Ery, akademisi juga dapat berperan melalui pengembangan riset dan kurikulum terkait sains serta hukum keantariksaan. Hasil kajian tersebut dapat menjadi masukan ilmiah untuk penyusunan regulasi nasional.

"Bagi industri, standar keamanan operasi satelit komersial perlu sejalan dengan prinsip keberlanjutan ruang angkasa. Pemanfaatan orbit harus berlangsung aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan," paparnya.

Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN Wahyudi Hasbi mengatakan orbit LEO merupakan sumber daya bersama yang terbatas. Karena itu, pembangunan Bandar Antariksa atau spaceport perlu diiringi tanggung jawab menjaga ruang angkasa.

"Jika Indonesia ingin menjadi pemain kunci industri antariksa melalui pembangunan spaceport, kita harus menjaga keberlanjutan ruang angkasa. Indonesia juga harus menjadi bagian dari solusi dalam menghadapi kepadatan orbit," tegas Wahyudi.

Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN Robertus Heru Triharjanto mendorong kolaborasi strategis antarlembaga. Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam tata kelola antariksa dunia.

"BRIN berkomitmen aktif dalam forum internasional yang membahas tata kelola ruang angkasa berkelanjutan. Kolokium ini menjadi langkah menyatukan visi nasional sebelum pemanfaatan antariksa dan pengoperasian spaceport," ujar Robertus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....