Gamaba, Calon Varietas Unggul Bawang Merah Adaptif Dataran Rendah
- 02 Agt 2026 00:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BRIN melalui Pusat Riset Hortikultura berkolaborasi dengan Fakultas Pertanian UGM mengembangkan Gamaba sebagai calon varietas bawang merah unggul yang adaptif di dataran rendah.
- Bawang merah merupakan komoditas pangan strategis dengan permintaan terus meningkat, namun produktivitasnya terkendala keterbatasan varietas yang optimal di dataran rendah.
- Perbanyakan Gamaba dilakukan di lahan petani kooperator Didik Hartanto di Candi Dukuh, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
RRI.CO.ID, Jakarta - Bawang merah merupakan salah satu komoditas pangan strategis yang permintaannya terus meningkat. Namun, produktivitasnya masih sering terkendala oleh keterbatasan varietas yang mampu tumbuh optimal di dataran rendah.
Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Hortikultura bersama Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan Gamaba, calon varietas unggul bawang merah yang dirancang adaptif terhadap kondisi agroekosistem dataran rendah. Perbanyakan Gamaba dilakukan di lahan petani kooperator Didik Hartanto, di Candi Dukuh, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kepala Pusat Riset Holtikultura BRIN, Dwinita Wikan Utami, memberikan apresiasinya atas pertumbuhan dan karakter umbi Gamaba yang menunjukkan hasil cukup menjanjikan. Menurutnya, penguatan data ilmiah dan penyiapan sistem perbenihan sejak awal merupakan langkah penting agar hasil riset dapat segera memberikan manfaat nyata bagi petani.
“Kami berharap kolaborasi ini tidak berhenti pada kegiatan penelitian saja. Kami ingin memastikan calon varietas yang dihasilkan memiliki keunggulan yang teruji, benihnya dapat diproduksi secara berkelanjutan, dan pada akhirnya dapat memberikan manfaat nyata bagi petani,” ujarnya, Kamis 30 Juli 2026.
Gamaba merupakan hasil kolaborasi tim Fakultas Pertanian UGM yang melibatkan Endang Sulistyaningsih dan Valentina Dwi Suci Handayani bersama peneliti BRIN Retno Pangestuti dan Rini Rosliani. Varietas ini telah memperoleh Sertifikat Pendaftaran Varietas Nomor 939/PVHP/2022 dan saat ini sedang dipersiapkan untuk mengikuti tahapan pengujian sebagai dasar pengusulan pelepasan varietas.
Lokasi penanaman dipilih berada pada ketinggian sekitar 100-300 meter di atas permukaan laut. Karena mewakili kondisi agroekosistem dataran rendah yang menjadi target pengembangan varietas ini.
Peneliti Pusat Riset Hortikultura BRIN, Retno Pangestuti, yang juga penanggung jawab kegiatan, menjelaskan penelitian pada 2026 difokuskan terhadap peningkatan stok umbi benih yang berasal dari true seed of shallot (TSS). Selain itu, penelitian juga mencakup karakterisasi genetik dan profil metabolit untuk memperkuat identitas serta keunggulan Gamaba sebagai calon varietas unggul baru.
“Kami sedang menyiapkan bahan tanam dalam jumlah dan mutu yang memadai untuk mendukung pengujian calon varietas. Selain karakter agronomis, penelitian juga akan mencakup karakterisasi genetik dan profil metabolit untuk memperkuat identitas serta informasi keunggulan Gamaba,” jelasnya.
Pada 2027, tim merencanakan uji keunggulan sebagai bagian dari persyaratan pengusulan pelepasan varietas. Apabila seluruh tahapan pengujian dan pelepasan telah terpenuhi, kegiatan pada 2028 akan diarahkan pada hilirisasi dan perbanyakan benih dengan melibatkan mitra produsen benih yang memenuhi persyaratan.
Berdasarkan hasil pengamatan agronomis, Gamaba memiliki potensi produktivitas lebih dari 15 ton per hektare dengan hasil yang relatif stabil pada musim kemarau maupun hujan. Selain itu, calon varietas ini memiliki ukuran umbi relatif besar, umur panen genjah sekitar 50-55 hari setelah tanam, serta potensi daya simpan hingga lima bulan.
Seluruh karakter unggul tersebut masih akan divalidasi melalui serangkaian pengujian sesuai persyaratan pelepasan varietas. “Pengembangan bawang merah adaptif dataran rendah penting dilakukan karena membuka peluang optimalisasi lahan sawah setelah panen padi dan lahan kering beririgasi,” ujar Retno.
Menurutnya, suhu yang relatif tinggi dan karakter lingkungan dataran rendah memerlukan varietas yang mampu mempertahankan pertumbuhan, pembentukan umbi, dan hasil secara stabil antar musim. Ketersediaan varietas yang sesuai diharapkan dapat mendukung perluasan musim dan wilayah tanam serta menjaga kesinambungan pasokan bawang merah nasional.
“Saat ini, tim sedang menyiapkan strategi pemeliharaan bahan tanaman sumber melalui penyediaan stok umbi benih dan biji (TSS). Strategi tersebut diperlukan untuk menjaga ketersediaan bahan tanaman, identitas genetik, kemurnian, dan mutu benih selama proses pengembangan,” ungkapnya.
Kolaborasi BRIN dan UGM ini diharapkan mempercepat tersedianya varietas bawang merah adaptif dataran rendah yang memiliki produktivitas tinggi, umur panen genjah, dan daya simpan yang baik. Pada akhirnya, inovasi tersebut diharapkan mendukung peningkatan produktivitas petani dan stabilitas pasokan bawang merah nasional. (rp, tek/ed: tnt)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....