Respons Arahan Presiden, BRIN Percepat Pemanfaatan Teknologi Air Berbasis Riset

  • 24 Jul 2026 22:39 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto agar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat penyediaan teknologi air untuk menghadapi dampak perubahan iklim, Kepala BRIN Arif Satria memperkenalkan enam teknologi hasil riset yang siap dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan air nasional. Berbagai inovasi tersebut dikembangkan sebagai solusi ilmiah untuk menjamin ketersediaan air bagi masyarakat, pertanian, industri, hingga penanggulangan bencana melalui pendekatan yang mencakup seluruh siklus hidrologi, mulai dari atmosfer, daratan, hingga kawasan pesisir dan laut.

Arif Satria mengatakan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan risiko kekeringan, banjir, serta ketidakpastian distribusi air di berbagai wilayah Indonesia. Oleh karena itu, pengelolaan sumber daya air tidak lagi cukup mengandalkan pembangunan infrastruktur konvensional, tetapi memerlukan dukungan riset dan inovasi agar setiap potensi sumber air dapat dimanfaatkan secara optimal.

"Keberlanjutan peradaban kita bergantung pada kemandirian dalam mengelola air. Teknologi yang dihadirkan BRIN memadukan keunggulan sains dasar dengan aplikasi praktis untuk memastikan setiap tetes air baik dari awan, celah bebatuan, maupun samudera dapat dioptimalkan bagi kesejahteraan masyarakat. Inilah wujud nyata Indonesia Tangguh Air menuju Indonesia Emas 2045," ujar Arif di Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026.

Teknologi yang ditawarkan tersebut antara lain : pertama, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC): Orkestrasi Presisi Hidrologi Atmosfer TMC bukan sekadar metode menurunkan hujan, melainkan manajemen sumber daya air atmosferik yang terukur. Teknologi ini mengintervensi proses mikrofisika awan menggunakan beragam metode penyemaian, mulai dari pesawat terbang, armada drone, roket, hingga Ground Base Generator. Dengan menyemaikan bahan khusus berupa powder, flare, maupun larutan, TMC secara efektif meningkatkan curah hujan untuk mengisi infrastruktur vital seperti waduk, danau, embung, serta me-recharge kantong-kantong air tanah.

Teknologi kedua adalah Eksplorasi Speleologi Karst dan Air Tawar Lepas Pantai (OFG). Menurut Arif, BRIN menginisiasi eksplorasi intensif pada sungai bawah tanah di kawasan batuan karst. Air hujan yang meresap ke dalam tanah karst bergerak melalui rongga-rongga batuan yang bertindak sebagai filter alami, menghasilkan aliran air yang jernih dan stabil. Eksplorasi ini menggunakan metode speleologi, tracer pewarnaan fluorescein, hingga geofisika dan pemodelan 3D. Lebih jauh, BRIN turut memetakan Offshore Fresh Groundwater (OFG) cadangan air tawar purba yang terjebak di bawah dasar laut pada landas kontinen sebagai lumbung air strategis masa depan.

Ketiga ⁠Teknologi Nuklir: Membaca "Sidik Jari" Air dan Resonansi Magnetik Bumi. Dalam melacak pergerakan air tanah, BRIN mengandalkan teknologi nuklir canggih. Molekul air menyimpan "sidik jari" alami berupa isotop (seperti 18O dan 2H) yang merekam elevasi, temperatur, dan curah hujan. Jejak ini memungkinkan periset membedakan asal-usul sumber air secara presisi, memetakan daerah imbuhan, hingga melacak kebocoran bendungan menggunakan radiotracer tanpa merusak lingkungan.

BRIN juga memanfaatkan Nuclear Magnetic Resonance (NMR) permukaan. Alat senilai Rp15,8 Miliar ini menggunakan medan magnet bumi untuk mendeteksi sinyal inti hidrogen dalam air tanah secara langsung. Teknologi ini mampu memindai potensi air hingga kedalaman 180 meter tanpa perlu pengeboran uji coba yang memakan biaya besar.

Keempat,⁠ ⁠Desalinasi Air Laut: Integrasi IoT dan Membran Ramah Lingkungan Untuk kawasan pulau kecil dan pesisir, BRIN menghadirkan sistem Desalinasi Air Laut berkapasitas komunal hingga industri (5.000 hingga lebih dari 20.000 liter/hari). Sistem ini bekerja melalui proses filtrasi berlapis: mulai dari Pre-treatment (filter multimedia dan karbon aktif), pendorongan pompa bertekanan tinggi ke membran Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), proses sterilisasi ganda (Ultraviolet dan Elektro), hingga tahapan mineralisasi akhir. Hasilnya, air laut dengan salinitas ekstrem hingga 40.000 ppm berhasil diubah menjadi air minum yang segar dan sehat.

Keunggulan riset ini makin nyata dengan dikembangkannya material filtrasi membran SWRO mandiri berdesain kompak, serta inovasi membran ultrafiltrasi yang memanfaatkan limbah selulosa dari daun mahkota nanas.

Kelima, ⁠Teknologi ARSINUM: Solusi Air Marginal dan Armada Tanggap Darurat. ARSINUM (Air Siap Minum) adalah inovasi andalan untuk mengolah air marginal—seperti air gambut pesisir, air keruh, dan air tanah dengan kandungan zat besi, mangan, serta kesadahan tinggi. Sistem yang telah terintegrasi dengan otomatisasi IoT ini dirakit dalam unit statis untuk pesantren dan perkantoran, maupun dalam bentuk Mobile Unit (di atas kendaraan). Unit mobile ini telah terbukti menjadi garda terdepan penyuplai air bersih di berbagai wilayah terdampak bencana, mulai dari Banjir Aceh, likuifaksi Palu, gempa Lombok, hingga banjir Jabodetabek.

Keenam, ⁠Konservasi Keseharian: Panen Air Hujan dan Instalasi Pengolah Air Wudhu. BRIN turut menghadirkan teknologi tepat guna untuk fasilitas umum melalui sistem pemanenan air hujan dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) domestik. Teknologi IPAL domestik ini sangat efektif mengolah air bekas wudhu dengan cara menekan polutan seperti TSS, BOD, COD, amonia, dan kekeruhan. Telah diuji coba di Masjid Agung Wonosari, Gunung Kidul, sistem ini menghasilkan air olahan stabil yang dapat dimanfaatkan kembali, menjadikannya solusi hemat energi dan ramah lingkungan yang minim residu lumpur.

Melalui enam teknologi tersebut, BRIN menegaskan komitmennya untuk memperkuat kapasitas Indonesia dalam menghadapi ancaman krisis air yang diperkirakan akan semakin meningkat akibat perubahan iklim. Berbekal riset, inovasi, dan kolaborasi, BRIN ingin memastikan bahwa pengelolaan air di Indonesia tidak lagi bersifat reaktif, tetapi menjadi sistem yang adaptif, berbasis ilmu pengetahuan, dan mampu menjamin ketersediaan air bagi generasi mendatang. (TAU/ed:pur)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....