Universitas Borneo Tarakan (UBT) Kenalkan Teknologi RAS untuk Budidaya Lele

  • 20 Jul 2026 10:48 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Universitas Borneo Tarakan (UBT), melatih Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Raja Ikan, menerapkan teknologi berbasis Recirculating Aquaculture System (RAS)
  • Teknologi itu memungkinkan budidaya ikan lele yang hemat air dan berkelanjutan
  • Pelatihan juga mencakup manajemen budidaya, pemberian pakan, kepadatan tebar, serta pencatatan usaha
  • Program ini merupakan pengabdian kepada masyarakat yang didanai DPPM Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
  • Teknologi RAS diharapkan menjadi model budidaya ikan modern bagi pembudidaya di Kalimantan Utara

RRI.CO.ID, Jakarta - Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Raja Ikan di Kota Tarakan, mendapat pelatihan budidaya lele berbasis Recirculating Aquaculture System (RAS). Kegiatan ini dilakukan tim dosen dan mahasiswa Universitas Borneo Tarakan, Kalimantan Utara, untuk meningkatkan kapasitas pembudidaya.

Sebelum pelatihan, anggota Pokdakan di Kelurahan Kampung Empat,masih menggunakan kolam konvensional tanpa sistem sirkulasi dan filtrasi air. Kondisi tersebut membuat pengelolaan kualitas air bergantung pada penggantian air secara berkala.

Selain membutuhkan air dalam jumlah relatif besar, sisa pakan dan kotoran ikan juga lebih mudah menumpuk. Hal itu menurunkan kualitas air dan memengaruhi pertumbuhan serta tingkat kelangsungan hidup benih.

Melalui teknologi RAS, air kolam dapat digunakan kembali setelah melalui proses penyaringan. Sistem ini membantu menjaga kualitas air sekaligus mengurangi penggunaan air selama pemeliharaan ikan.

Dalam kegiatan yang dirancang dengan pendekatan praktik langsung, anggota Pokdakan memperoleh materi sekaligus praktik. Yakni penyusunan media filter, pengaturan aliran air, pemeriksaan pompa, hingga memastikan sistem aerasi berfungsi dengan baik.

Ketua Tim Pengabdian UBT, Miska Sanda Lembang, M.Si., mengatakan pelatihan dirancang agar peserta memahami seluruh tahapan pengoperasian sistem. Menurut dosen Program Studi Akuakultur UBT itu, praktik langsung akan memudahkan kelompok menerapkan teknologi tersebut secara mandiri.

"Selama ini mitra masih menggunakan kolam konvensional tanpa sistem sirkulasi dan filtrasi. Melalui pelatihan ini, anggota kelompok dilibatkan langsung agar memahami aliran air, fungsi filter, cara mengoperasikan pompa, serta melakukan perawatan sistem secara mandiri," ujar Miska, dalam keterangan tertulis resmi yang diterima Senin, 20 Juli 2026.

Setelah instalasi selesai, peserta dengan pendampingan tim UBT, menebar benih ikan lele ke kolam RAS secara bertahap. Peserta juga dibekali pengetahuan mengenai kepadatan tebar, pemberian pakan, serta pemeliharaan kualitas air.

Dosen Teknik Sipil UBT, Noerman Adi Prasetya, M.T., mendampingi aspek konstruksi dan sistem perpipaan. Sementara dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Rusdy Setiawan, M.E., memberikan penguatan mengenai pencatatan usaha sebagai dasar evaluasi produksi.

Ketua Pokdakan Raja Ikan, Sadirun, mengaku pelatihan memberi pengalaman baru bagi anggotanya. Menurutnya, praktik langsung membuat peserta lebih memahami perbedaan kolam konvensional dengan sistem RAS.

"Selama ini kami masih menggunakan kolam biasa. Dengan pelatihan ini, kami belajar langsung menyusun filter, mengatur sirkulasi air, dan menebar benih di kolam RAS. Kami berharap sistem ini dapat membantu meningkatkan keberhasilan budidaya," ujar Sadirun.

Pelatihan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat, yang mendapat bantuan dana dari pemerintah. Tepatnya Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.

Proses pendanaan diberikan melalui Kontrak Induk Nomor 145/C3/DT.05.00/PM/2026 dan Kontrak Turunan Nomor 007/UN51.9/SP2H/PKM/2026. Keberhasilan program ini juga diharapkan menjadi contoh, bagi kelompok pembudidaya lain di Kota Tarakan, Kalimanta Utara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....