Mengenal Ibrahim Al Abrar, Bocah Boyolali yang Temukan Celah Keamanan NASA
- 19 Jul 2026 02:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ibrahim Al Abrar, siswa kelas 6 SD asal Boyolali, menerima surat apresiasi dari NASA setelah menemukan celah keamanan pada salah satu domain publik lembaga antariksa Amerika Serikat.
- Ketertarikan Ibrahim pada teknologi berawal dari hobi bermain gim, kemudian berkembang menjadi kemampuan belajar coding dan keamanan siber secara mandiri melalui berbagai sumber daring.
- Ibrahim bercita-cita menjadi profesional di bidang keamanan siber, sementara orang tuanya berharap prestasinya dapat menginspirasi anak-anak Indonesia untuk memanfaatkan teknologi secara positif.
RRI.CO.ID, Jakarta - Seorang siswa kelas enam sekolah dasar asal Boyolali, Jawa Tengah, menjadi perhatian usai menemukan celah keamanan NASA. Temuan tersebut mengantarkan Ibrahim Al Abrar menerima surat apresiasi resmi dari NASA, Kamis, 9 Juli 2026.
Lantas, siapakah Ibrahim Al Abrar yang kini menjadi sorotan publik? Melansir dari akun instagram pribadinya, berikut adalah profilnya.
Ibrahim merupakan siswa SD Negeri 3 Genengsari, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, yang kini duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Aminuddin Salas dan Hannisa Oktaviani.
Ketertarikan Ibrahim terhadap dunia teknologi bermula dari kegemarannya memainkan gim digital sejak masih berusia belia di rumah. Dukungan orang tua membuatnya mulai mempelajari pemrograman secara mandiri hingga mampu membuat gim sederhana melalui proses belajar.
Dalam enam bulan terakhir, Ibrahim mulai memfokuskan pembelajaran pada bidang keamanan siber melalui berbagai referensi yang tersedia secara daring. Ia juga mengaku terinspirasi oleh kisah para peneliti keamanan yang berhasil menemukan kerentanan pada sistem NASA.
Kemampuan tersebut membawanya menemukan kerentanan berupa 'broken link hijacking' pada salah satu domain publik milik NASA yang dapat dilaporkan. Temuan itu kemudian disampaikan melalui program Vulnerability Disclosure Policy atau VDP yang disediakan oleh NASA untuk peneliti keamanan.
Ayah Ibrahim menjelaskan, bahwa putranya telah beberapa kali mengirimkan laporan mengenai kerentanan sistem kepada NASA. Dari empat laporan yang dikirimkan, satu diterima, satu masih diproses, satu ditolak, dan satu dinyatakan sebagai laporan duplikat.
Hasil tersebut menunjukkan proses pelaporan kerentanan memerlukan ketelitian, kesabaran, serta pemahaman terhadap prosedur yang telah ditetapkan oleh lembaga. Pengalaman itu juga menjadi bagian penting dalam perjalanan belajar Ibrahim sebagai peneliti keamanan siber muda.
Ke depan, Ibrahim bercita-cita menjadi profesional di bidang keamanan siber dan terus mengembangkan kemampuan teknologi informasi. Orang tuanya berharap pencapaian tersebut dapat menginspirasi anak-anak Indonesia agar memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar dan berkarya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....