PINTU dan Universitas Paramadina Edukasi Warga Bekasi Tangkal Hoaks dan Penipuan
- 10 Jul 2026 18:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- PINTU berkolaborasi dengan Universitas Paramadina menggelar program literasi digital "Cek Sebelum Cekcok".
- Sekitar 150 warga Bekasi mengikuti edukasi mengenai hoaks, deepfake, phishing, dan penipuan berbasis AI.
- PINTU mengedukasi masyarakat agar memanfaatkan AI secara produktif sekaligus menghindari modus penipuan digital.
RRI.CO.ID, Bekasi - PT Pintu Kemana Saja (PINTU) bersama Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina menggelar program literasi digital bertajuk "Cek Sebelum Cekcok". Program ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap hoaks, video deepfake, dan penipuan digital berbasis kecerdasan artifisial (AI).
Kegiatan yang berlangsung di Trimedia Green Park, Bintara, Kota Bekasi, pada 4 Juli 2026 itu diikuti sekitar 150 warga. Program tersebut turut didukung Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), DPRD Kota Bekasi, serta Universitas Paramadina.
Chief Marketing Officer PINTU, Timothius Martin, mengatakan kolaborasi tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat literasi digital masyarakat di tengah meningkatnya ancaman siber.
"Kami berharap program ini dapat menjadi inspirasi agar masyarakat semakin cerdas dalam memanfaatkan teknologi. Sekaligus, lebih waspada terhadap berbagai bentuk kejahatan digital," kata Timothius dalam keterangannya, Jumat, 10 Juli 2026.
Anggota DPRD Kota Bekasi, Chairun Nisa, menilai edukasi literasi digital menjadi kebutuhan mendesak mengingat tingginya penggunaan internet di Kota Bekasi. Menurutnya, masyarakat perlu dibekali kemampuan mengenali berbagai modus penipuan digital yang semakin marak seiring meningkatnya aktivitas di media sosial.
Sementara itu, Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina, Dr Rini Sudarmanti, mengajak masyarakat lebih kritis saat menerima informasi di ruang digital. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah percaya pada judul sensasional, gambar hasil rekayasa AI, maupun sumber informasi yang tidak jelas.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Tim Pembinaan Komunikasi Publik Daerah Komdigi, Dimas Aditya Nugraha, mengungkapkan masih banyak masyarakat yang kesulitan membedakan informasi benar dan hoaks. Karena itu, ia mengimbau masyarakat menerapkan prinsip “saring sebelum sharing”.
Senior Product Marketing Specialist PINTU, Reyner Jonathan, juga membagikan sejumlah tips menghindari penipuan digital. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi, tidak panik, selalu memeriksa nomor resmi institusi, serta menghindari mengklik tautan yang mencurigakan.
Selain itu, Reyner menilai AI juga memiliki banyak manfaat jika digunakan secara bijak. Mulai dari membantu mencari informasi, membuat konten media sosial, hingga mendukung aktivitas usaha.
Berdasarkan laporan Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 dari PwC Indonesia, sebanyak 69 persen pekerja Indonesia telah memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas. Namun, Komdigi juga mencatat kerugian akibat penipuan digital di Indonesia diperkirakan mencapai Rp7,5 triliun.
PINTU menegaskan akan terus mendukung berbagai program edukasi agar masyarakat semakin siap menghadapi tantangan dunia digital, sekaligus memanfaatkan teknologi secara positif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....