Temu Ilmiah ITP2I Dorong Hilirisasi dan Teknologi Cerdas untuk Industri Sawit
- 10 Jul 2026 06:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- ITP2I menggelar Temu Ilmiah III dalam rangka Dies Natalis ke-10.
- Forum mempertemukan akademisi, pemerintah, dan pelaku industri sawit dari berbagai negara.
- Hilirisasi dan teknologi digital dinilai menjadi kunci meningkatkan daya saing industri sawit.
RRI.CO.ID, Pelalawan - Institut Teknologi Perkebunan Pelalawan Indonesia (ITP2I) menggelar Temu Ilmiah III dalam rangka Dies Natalis ke-10 di Auditorium Kantor Bupati Pelalawan, Rabu, 8 Juli 2026. Kegiatan ini mengusung tema "Advancing the Palm Oil Industry: Smart and Sustainable Technologies for Downstream Innovation and Industrial Challenges."
Forum tersebut menjadi ajang diskusi para akademisi, peneliti, pemerintah, dan pelaku industri sawit dari berbagai negara. Khususnya, untuk membahas masa depan industri kelapa sawit Indonesia yang lebih inovatif, kompetitif, dan berkelanjutan.
Rektor ITP2I Prof Tengku Dahril mengatakan kampus yang didirikannya terus berkembang sebagai perguruan tinggi yang fokus pada pengembangan ilmu dan teknologi perkebunan. Hingga saat ini, ITP2I telah meluluskan 192 alumni dan memiliki 628 mahasiswa aktif.
"Kami terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Ke depan seluruh dosen ITP2I ditargetkan memiliki kualifikasi doktor sehingga mampu menghasilkan riset dan inovasi yang memberikan solusi bagi pengembangan industri perkebunan, khususnya kelapa sawit," kata Tengku Dahril.
Temu Ilmiah III menghadirkan sejumlah narasumber internasional, antara lain Assoc Prof Potjamarn Suraninpong dari Walailak University Thailand, Prof Ir Hariyadi dari IPB University, Prof Khairur Rizal dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM), serta Sariadi Sipayung yang saat ini bertugas sebagai Senior Estate Manager Wilmar Afrika di Nigeria.
Mewakili Bupati Pelalawan, Asisten III Setdakab Pelalawan Mayhendri menegaskan bahwa industri sawit saat ini menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari isu lingkungan, tuntutan pasar global, hingga perkembangan teknologi yang sangat cepat.
Menurut dia, hilirisasi merupakan langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah produk sawit. Sekaligus, menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
"Kita tidak boleh hanya menjual bahan baku. Namun, harus mampu menghasilkan berbagai produk turunan yang bernilai ekonomi tinggi," ujarnya.
Mayhendri juga menyoroti pentingnya penerapan teknologi digital seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan sistem pertanian cerdas. Teknologi digital dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas serta efisiensi industri sawit nasional.
Selain membahas hilirisasi, forum ilmiah ini juga mengangkat isu keberlanjutan industri sawit. Mulai dari penerapan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), ketertelusuran produk (traceability), legalitas perkebunan, hingga penguatan UMKM berbasis komoditas perkebunan.
Peran Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam mendukung riset, pengembangan sumber daya manusia, promosi, peremajaan kebun, hingga hilirisasi industri, juga menjadi salah satu topik utama yang dibahas.
Melalui Temu Ilmiah III, ITP2I berharap lahir berbagai rekomendasi dan kolaborasi yang mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia. Sekaligus, mendorong transformasi industri sawit menuju sektor yang modern, inovatif, dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....