BRIN Garap Desain Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut

  • 03 Jul 2026 00:31 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Tim BRIN dipimpin Adnan Sandy Dwi Marta mengembangkan desain PLTGL berbasis OWC multi-chamber dengan tujuan meningkatkan efisiensi konversi energi gelombang laut menjadi listrik.
  • Teknologi L-OWC dengan konfigurasi multi-chamber pada sudut inklinasi 40° mencapai efisiensi sistem 86 persen dan dapat diintegrasikan dengan infrastruktur pelindung pantai seperti breakwater atau Giant Sea Wall.
  • Indonesia memiliki potensi teoretis energi laut mencapai 288 GW dengan tingkat pemanfaatan saat ini 0 persen, sehingga inovasi ini memiliki prospek strategis untuk solusi energi daerah 3T dan disparitas harga energi di Indonesia Timur.

RRI.CO.ID, Jakarta - Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dipimpin Adnan Sandy Dwi Marta, sekaligus Manajer Laboratorium Dinamika Pesisir dan Rekayasa Pantai, Direktorat Pengelolaan Laboratorium, Fasilitas Riset, dan Kawasan Sains dan Teknologi (DPLFRKST) mengembangkan desain pembangkit listrik tenaga gelombang laut (PLTGL) berbasis oscillating water column (OWC) multi ruang (multi chamber). Penelitian ini bertujuan meningkatkan kemampuan sistem dalam menangkap dan mengubah energi gelombang laut menjadi listrik secara lebih efisien.

Pemanfaatan PLTGL berpotensi menjadi solusi teknis penyediaan energi fundamental untuk elektrifikasi daerah terpencil dan kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Hal ini secara langsung akan mengatasi hambatan akses serta disparitas harga energi di wilayah Indonesia Timur.

OWC merupakan teknologi energi terbarukan yang memanfaatkan gerakan naik-turun permukaan air akibat gelombang laut untuk menghasilkan aliran udara yang dapat memutar turbin pembangkit listrik. Secara global, teknologi tersebut menjadi salah satu konverter energi gelombang yang paling banyak dikembangkan dan telah diterapkan pada berbagai skala pembangkit.

“Ekstraksi energi gelombang laut melalui teknologi OWC menawarkan peluang integrasi yang strategis dengan infrastruktur pelindung pantai, seperti pemecah gelombang (breakwater) atau Proyek Strategis Nasional Giant Sea Wall,” ungkapnya, Selasa 30 Juni 2026. Integrasi teknologi ini tidak hanya berfungsi sebagai mitigasi pesisir terhadap abrasi, tetapi juga memaksimalkan struktur tersebut sebagai sistem PLTGL yang andal dan berkelanjutan.

“Kinerja hidrodinamika dan aerodinamika PLTGL tipe OWC sangat bergantung pada optimasi konfigurasi geometri ruang (chamber). Berdasarkan hasil validasi eksperimental dan simulasi numerik, geometri L-shaped (L-OWC) terbukti secara signifikan mengungguli desain U-shaped maupun konvensional dalam mengamplifikasi osilasi permukaan bebas (free surface elevation), tekanan diferensial, serta kecepatan aliran udara untuk konversi daya pneumatic,” jelasnya.

Lebih lanjut Adnan menyampaikan, inovasi pada sistem multi-chamber dengan variasi jumlah ruang dan sudut inklinasi tersebut menunjukkan peningkatan absorpsi daya yang substansial. “Konfigurasi multi-chamber dengan sudut inklinasi 40° teridentifikasi sebagai desain paling optimal, dengan tingkat efisiensi sistem mencapai 86 persen, desain spesifik ini secara efektif memfasilitasi distribusi tekanan udara yang lebih merata di dalam ruang dan memaksimalkan konversi energi pada kondisi gelombang tertentu,” ucapnya.

Implementasi teknologi L-OWC dan sistem multi-chamber ini memiliki prospek strategis untuk direalisasikan pada skala nasional. Meskipun Indonesia memiliki potensi teoretis energi laut mencapai 288 GW, tingkat pemanfaatannya saat ini masih belum terealisasi atau 0 persen.

“Desain geometri ruang yang telah dioptimasi menunjukkan adaptabilitas hidrodinamika yang sangat baik terhadap karakteristik gelombang spesifik lokasi. Mulai dari gelombang periode pendek di Laut Banda dan Laut Arafura (Maluku), hingga gelombang perairan Samudra Hindia di Pulau Jawa, Bali, Sumbawa, dan Sumba,” ujar Adnan. (tek, kf/ed: tnt)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....