Silvo-Akuakultur Dorong Ketahanan Pangan Pesisir Berkelanjutan

  • 23 Jun 2026 20:03 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti perkembangan riset silvo-akuakultur sebagai pendekatan pengelolaan pesisir yang mengintegrasikan ekosistem mangrove dan kegiatan akuakultur guna mendukung ketahanan pangan di wilayah pesisir.

Hal tersebut disampaikan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Budidaya Laut BRIN, Hidayat Suryanto Suwoyo, dalam Webinar OceanFarm ke-8 bertajuk Silvo-Aquaculture and Its Contribution to Coastal Food Resilience yang diselenggarakan Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Selasa (23/6/2026).

Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan silvo-akuakultur karena memiliki hutan mangrove terluas di dunia dengan luas sekitar 3,31 juta hektare yang tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

"Kita tahu bahwa negara kita memiliki hutan mangrove terluas di dunia dengan luas kurang lebih 3,31 juta hektare. Silvo-aquaculture merupakan kegiatan terpadu berkelanjutan antara pengelolaan kawasan mangrove dengan akuakultur berbasis tambak yang memungkinkan pemanfaatan kawasan mangrove sekaligus menjaga kelestariannya," ujar Hidayat.

Ia menjelaskan bahwa mangrove memiliki berbagai fungsi ekologis dan sosial, antara lain melindungi wilayah pesisir dari bencana, menyediakan habitat bagi berbagai biota, menyerap karbon, menjaga proses ekologis, serta mendukung mata pencaharian masyarakat pesisir.

Konsep silvo-akuakultur memadukan pengelolaan mangrove dengan budidaya perikanan melalui prinsip keberlanjutan. Penerapannya antara lain menekankan penggunaan bahan alami, optimalisasi fungsi mangrove, pengurangan input budidaya, pemanfaatan limbah, ekonomi sirkular, serta pendekatan budidaya yang meniru proses alami.

Berbagai model silvo-akuakultur telah dikembangkan di Indonesia, seperti model empang parit, komplangan, tanggul, hingga sistem greenbelt yang menempatkan mangrove sebagai zona penyangga di depan area budidaya.

Hidayat juga menyoroti perkembangan publikasi ilmiah terkait silvo-akuakultur di Indonesia. Berdasarkan telaah literatur yang dipaparkannya, terdapat lebih dari 100 publikasi mengenai silvo-fishery dan silvo-aquaculture selama periode 1990–2026. Indonesia menjadi salah satu negara yang aktif menghasilkan publikasi di bidang tersebut.

Kajian tersebut mencakup aspek kualitas air, keanekaragaman hayati, produktivitas tambak, penyerapan karbon, mitigasi perubahan iklim, hingga pengembangan komoditas budidaya di kawasan mangrove.

Hidayat menyampaikan, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi mangrove dengan tambak berpotensi memperbaiki kualitas air, mempertahankan keanekaragaman hayati, menyimpan karbon, dan memberikan manfaat ekonomi.

Beberapa komoditas yang telah dikaji dalam sistem silvo-akuakultur antara lain udang windu, udang vaname, ikan bandeng, kepiting bakau, nila salin, dan rumput laut.

Selain kajian literatur, BRIN juga melakukan sejumlah penelitian lapangan di Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah yang mengintegrasikan mangrove dengan budidaya udang, bandeng, rumput laut, dan kepiting bakau. Hasil pengamatan menunjukkan adanya potensi peningkatan produktivitas budidaya, ketersediaan pakan alami, serta perbaikan kualitas lingkungan tambak.

Riset lainnya juga mengkaji pemanfaatan limbah budidaya sebagai media pembibitan mangrove. Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular dan pengelolaan pesisir yang berkelanjutan.

Meskipun demikian, Hidayat menyampaikan bahwa pengembangan silvo-akuakultur masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain pengelolaan tata air, kerusakan ekosistem mangrove, kualitas tanah tambak, keterbatasan pengetahuan pembudidaya, serta perlunya dukungan kebijakan dan pendampingan di lapangan.

"Dukungan kebijakan dan pendampingan lapangan sangat diperlukan agar silvo-fishery benar-benar menjadi model akuakultur berkelanjutan dalam mendukung ketahanan pangan di daerah pesisir," ujarnya.

Ia berharap pengembangan silvo-akuakultur dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian mangrove melalui keterlibatan masyarakat, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan.

Hasil-hasil riset yang telah dilakukan menunjukkan bahwa silvo-akuakultur memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu pendekatan pengelolaan pesisir yang mengintegrasikan aspek ekologi dan produksi perikanan secara berkelanjutan. (jnn)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....