Sistem Peringatan Dini Gempa Berperan Lindungi Industri dan Infrastruktur Vital
- 02 Jun 2026 11:13 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Sistem peringatan dini gempa bumi (Earthquake Early Warning System/EEWS) tidak hanya bermanfaat untuk memberi peringatan kepada masyarakat. Tetapi juga berperan penting dalam melindungi industri dan infrastruktur vital.
- Di Jepang sistem peringatan dini gempa sudah digunakan secara luas, tidak hanya oleh masyarakat umum, tetapi juga oleh perusahaan kereta api, industri semikonduktor, pusat perbelanjaan, hingga perusahaan energi.
- Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, mengatakan bahwa sistem peringatan dini yang cepat dan akurat sangat dibutuhkan untuk membantu mengurangi dampak gempa bumi.
RRI.CO.ID, Jakarta - Sistem peringatan dini gempa bumi (Earthquake Early Warning System/EEWS) tidak hanya bermanfaat untuk memberi peringatan kepada masyarakat. Tetapi juga berperan penting dalam melindungi industri dan infrastruktur vital.
Hal tersebut disampaikan Dr. Mizan Bisri dari Asian Disaster Reduction Center (ADRC) dalam webinar kolaboratif Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengenai pengembangan sistem peringatan dini gempa di Indonesia, Senin 18 Mei 2026 melalui daring.
Menurutnya, di Jepang sistem peringatan dini gempa sudah digunakan secara luas, tidak hanya oleh masyarakat umum, tetapi juga oleh perusahaan kereta api, industri semikonduktor, pusat perbelanjaan, hingga perusahaan energi. Sistem ini bekerja dengan memanfaatkan jeda waktu antara gelombang awal gempa dan gelombang utama yang menimbulkan guncangan kuat.
“Tujuannya bukan hanya menyelamatkan manusia, tetapi juga melindungi aset dan menjaga keberlangsungan operasional bisnis,” jelas Mizan dalam Webinar Geohazard 2026 #02 yang diselenggarakan Pusat Riset Kebencanaan Geologi ini. Mizan menjelaskan bahwa pengembangan sistem peringatan dini gempa di Indonesia saat ini menjadi bagian dari kerja sama riset Indonesia dan Jepang melalui program SATREPS 2025-2029.
Program tersebut bertujuan membangun sistem peringatan dini gempa dan respons terpadu di wilayah Jawa bagian barat sebagai langkah awal menuju sistem nasional. Ia menjelaskan bahwa di Jepang terdapat mekanisme kerja sama antara lembaga pemerintah, penyedia layanan, dan perusahaan swasta.
Data gempa dari Japan Meteorological Agency (JMA) diteruskan melalui perusahaan perantara, lalu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pengguna. Karena setiap industri memiliki risiko berbeda, sistem yang digunakan pun dapat disesuaikan.
“Setiap perusahaan memiliki kebutuhan perlindungan yang berbeda, sehingga sistemnya harus dikustomisasi sesuai jenis bisnis dan aset yang ingin dijaga,” ujarnya. Salah satu contoh yang dipaparkan adalah penerapan sistem EEWS pada kereta cepat Shinkansen di Jepang.
Ketika sensor mendeteksi gempa, sistem akan otomatis memutus aliran listrik dan mengaktifkan rem darurat sebelum guncangan kuat tiba. Semua proses berlangsung otomatis tanpa campur tangan manusia.
Menurut Mizan, sistem seperti ini terbukti membantu mengurangi risiko kecelakaan dan kerusakan saat gempa besar terjadi di Jepang beberapa waktu lalu. Meski layanan kereta sempat dihentikan sementara untuk pemeriksaan, sistem tersebut berhasil menjaga kereta tetap berada di jalur dan mencegah kerusakan yang lebih parah.
Selain transportasi, industri teknologi tinggi seperti semikonduktor juga menjadi pengguna utama sistem peringatan dini gempa. Industri ini sangat sensitif terhadap getaran kecil karena proses produksinya membutuhkan tingkat presisi sangat tinggi.
Mizan menjelaskan bahwa getaran gempa dapat merusak produk semikonduktor bernilai tinggi hanya dalam hitungan detik. Karena itu, banyak perusahaan di Jepang menghubungkan sistem peringatan dini gempa dengan mesin produksi mereka agar dapat berhenti otomatis saat gempa terdeteksi.
Beberapa perusahaan bahkan menggabungkan sistem peringatan regional dari pemerintah dengan sensor lokal milik perusahaan sendiri. Pendekatan gabungan ini dianggap lebih efektif karena mampu meningkatkan akurasi sekaligus mengurangi risiko peringatan palsu.
“Sebagian besar industri besar di Jepang menggunakan kombinasi sistem regional dan sensor lokal mereka sendiri,” kata Mizan. Ia menambahkan bahwa sistem peringatan dini gempa bukan solusi tunggal.
Teknologi tersebut tetap harus didukung bangunan tahan gempa, kesiapan masyarakat, prosedur kedaruratan, hingga inspeksi pasca gempa. “Peringatan dini gempa hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan upaya pengurangan risiko bencana,” ujarnya.
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, mengatakan bahwa sistem peringatan dini yang cepat dan akurat sangat dibutuhkan untuk membantu mengurangi dampak gempa bumi. “Melalui webinar ini, BRIN bersama BMKG terus mendorong pengembangan sistem peringatan dini gempa yang tidak hanya bermanfaat untuk masyarakat umum, tetapi juga dapat mendukung sektor industri dan transportasi di Indonesia,” kata Adrin.
Pengalaman Jepang diharapkan dapat menjadi pembelajaran penting dalam membangun sistem mitigasi gempa yang lebih siap dan terintegrasi di masa mendatang. (lcz/ed.kg,jml)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....