Evvy Kartini, Ilmuwan Nuklir Wanita Indonesia yang Mendunia
- 21 Apr 2026 15:26 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Evvy Kartini menjadi salah satu contoh figur perempuan inspiratif yang berkontribusi besar untuk Tanah Air.
- Perjalanan Evvy menunjukkan seberapa jauh perempuan bisa melangkah dengan ilmunya.
RRI.CO.ID, Jakarta - Di Indonesia, teknologi tenaga nuklir mungkin masih menjadi hal yang belum umum. Namun kita harus berbangga, sebab Indonesia memiliki seorang ahli yang prestasinya telah diakui dunia, yakni Evvy Kartini.
Melansir berbagai sumber, Evvy adalah fisikawan yang berfokus dalam bidang hamburan neutron yang diakui secara internasional. Ia dikenal sebagai ilmuwan penemu penghantar listrik berbahan gelas yang berdaya hantar sepuluh ribu kali lipat dari bahan biasanya.
Sebelum menemukan penemuan fantastisnya itu, dibutuhkan proses-proses percobaan yang sangat merogoh kocek. Evvy sempat berada di fase di mana dirinya hampir putus asa.
Biaya dan fasilitas penelitian di Indonesia, termasuk Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), pada saat itu masih belum akan mencukupi. Dengan modal tekad yang kuat, Evvy mengirimkan proposal penelitiannya ke lembaga penelitian di Kanada.
Riset gelas superioniknya dimulai di Jerman pada tahun 1994–1995, sebelum berlanjut ke Universitas McMaster, Kanada. Di sana, ia bekerja di bawah pengawasan para ilmuwan nuklir ternama dunia.
Dalam rentang waktu tersebut, Evvy juga berhasil menemukan puncak Boson pada energi rendah melalui kolaborasi riset internasional. Temuan prestisius ini dipresentasikan di hadapan ratusan peserta konferensi besar di Swiss.
Gelar doktor diraihnya dari Universitas Teknik Berlin setelah menyelesaikan studinya. Selama periode ini, ia juga dianugerahi untuk menghadiri kursus bergengsi "Higher European Research Course for Users Using Large System (HERCULES)” di Institut Laue Langevin dan fasilitas nuklir lainnya di Prancis.
Namanya diakui melalui publikasi di Kanada dan jurnal ilmiah seperti "Physical Review B". Pada tahun 1998–2000, Evvy kembali melanjutkan studi postdoctoral di McMaster untuk mengembangkan material elektrolit padat baru.
Material inilah yang menjadi tonggak penting bagi pengembangan teknologi baterai yang efisien di masa depan. Penelitiannya melibatkan berbagai fasilitas nuklir di Jepang, Inggris, hingga wilayah Australia.
Ia juga aktif menjalin kolaborasi dengan banyak ilmuwan hebat dari berbagai belahan dunia. Evvy akhirnya menjadi pakar ilmu material, khususnya pada riset baterai jenis ion litium.
Sejak saat itu, Evvy sukses mengelola berbagai hibah penelitian. Baik dari tingkat nasional maupun internasional.
Pada 2020, Evvy mendirikan laboraturium National Battery Research Insititute (NBRI) di kawasan Bogor, yang berada di bawah naungan lembaga BATAN. Peralatan baterai diberikan oleh Kementerian Riset dan Teknologi, pada tahun 2013, dan secara resmi diluncurkan oleh Menteri Riset dan Teknologi, Prof. Dr. I Gusti Muhammad Nuh.
Laboratorium ini telah dilengkapi dengan baik dengan produksi saluran baterai. Sebagai founder, Evvy bersama timnya terus menjadikan fasilitas ini menjadi pusat keunggulan utama bagi riset baterai nasional.
Sosok Evvy Kartini sebagai Ilmuwan wanita membuktikan bahwa gender bukanlah hambatan untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya, serta menjadi orang yang hebat dengan segudang prestasi. Semangatnya diharapkan bisa menginspirasi seluruh anak bangsa untuk terus berkarya bagi Tanah Air.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....