Solusi Substitusi LPG, BRIN Kembangkan Material MOF untuk Penyimpanan Gas Metana

  • 20 Apr 2026 11:27 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan pemanfaatan Metal-Organic Frameworks (MOF) untuk penyimpanan gas metana. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi solusi substitusi LPG sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Polimer BRIN, Canggih Setya Budi, menjelaskan MOF merupakan material hibrida yang tersusun dari ion logam dan molekul organik yang membentuk struktur berpori sangat tinggi. Karakteristik ini menjadikan MOF sangat potensial untuk aplikasi penyimpanan gas.

“Dibandingkan material berpori lainnya seperti zeolite atau mesoporous silika, MOF memiliki luas permukaan sangat tinggi, hingga sekitar 10.000 m² per gram. Artinya, dalam satu gram MOF, luasnya bisa mencapai lebih dari lapangan sepak bola. Hal ini membuat MOF sangat efektif untuk penyimpanan gas seperti CO₂, CH₄ dan hidrogen,” ujarnya pada Workshop on 2D Functional Materials for Energy, Environment, and Health Applications, di ICE BSD, Tangerang Selatan, Rabu, 15 April 2026.

Canggih menuturkan pengembangan teknologi ini menjadi semakin relevan mengingat tingginya ketergantungan Indonesia terhadap LPG impor. Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi besar dalam produksi gas metana, dari sumber alam maupun biomassa. MOF pun berperan dalam proses pemisahan dan peningkatan kualitas gas metana tersebut.

“Indonesia dikenal sebagai negara dengan potensi gas alam yang besar serta industri kelapa sawit terbesar di dunia. Limbah sawit berupa palm oil mill effluent (POME) mengandung biogas yang masih memiliki pengotor seperti H₂S, H₂O, dan CO₂. Dalam hal ini, MOF berperan penting dalam proses pemisahan dan upgrading gas metana yang dihasilkan dari biogas POME tersebut,” jelas Canggih.

Meski demikian, menurut Canggih, penerapan MOF untuk penyimpanan metana masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya kerapuhan struktur saat proses pemadatan, sensitivitas material terhadap kelembaban, serta tingginya biaya produksi dalam skala besar. Selain itu, proses sintesis MOF umumnya masih menggunakan pelarut beracun dan membutuhkan energi yang besar. Tantangan-tantangan tersebut sekaligus membuka peluang untuk terus melakukan riset dan pengembangan lebih lanjut.

“Tantangannya dalam penggunaan MOF itu ketika kita membuat pelet dengan memberikan tekanan dan temperatur. Sehingga kita tertantang untuk menemukan bagaimana meng-compact MOF lebih efisien tanpa merusak karakternya dan menyintesis MOF yang bisa tahan terhadap kondisi mekanik yang ekstrem,” jelas Canggih.

“Kemudian MOF juga sensitif terhadap uap air, di mana gas alam kita mengandung banyak uap air, sehingga diperlukan suatu MOF yang tahan atau toleran terhadap uap air,” tambahnya.

Lebih lanjut, Canggih menjelaskan saat ini Pusat Riset Teknologi Polimer BRIN bekerja sama dengan Kyoto University di bawah bimbingan Prof. Susumu Kitagawa. Kolaborasi ini juga melibatkan startup berbasis MOF dari Jepang, yaitu Yachiyo Engineering dan Atomis, dalam skema Sister Lab yang memungkinkan kolaborasi riset lebih intensif melalui pemanfaatan fasilitas bersama, mobilitas periset, serta pengembangan program riset kolaboratif lintas institusi.

“Melalui kerja sama ini, BRIN, Kyoto University, Atomis, dan Yachiyo Engineering dapat mengimplementasikan MOF secara masif, terutama untuk pertahanan energi di Indonesia. Kita juga tidak membatasi pada bidang energi saja, tetapi bidang kesehatan dan juga lingkungan,” pungkas Canggih. (Rn/ed: tnt)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....