Artemis II Saksikan Tumbukan Mikrometeorit Bulan, Ilmuwan NASA Bersorak Gembira

  • 09 Apr 2026 14:54 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Astronot Artemis II melaporkan melihat sedikitnya lima kilatan tumbukan mikrometeorit di sisi jauh Bulan saat pesawat Orion melakukan pendekatan terdekat.
  • Temuan tersebut memicu antusiasme ilmuwan NASA karena dapat membantu memahami dinamika lingkungan di sekitar Bulan.

RRI.CO.ID, Jakarta – Para ilmuwan NASA mengaku sangat antusias setelah misi Artemis II menyaksikan langsung dampak mikrometeorit di permukaan Bulan. Mereka bahkan menyerukan teriakan kegembiraan di ruang pemantauan sains NASA saat laporan dari kru diterima Bumi.

Momen itu terjadi saat Orion melakukan pendekatan terdekat dengan Bulan pada Senin, 6 April 2026. Selama penerbangan melintasi sisi jauh Bulan, kru melakukan berbagai pengamatan ilmiah terhadap permukaan satelit alami Bumi tersebut.

Pimpinan sains lunar Artemis II, Kelsey Young, mengatakan para ilmuwan di Johnson Space Center, Houston, sangat bersemangat. Apalagi ketika para astronot melaporkan melihat kilatan cahaya di permukaan Bulan akibat tumbukan mikrometeorit.

Fenomena itu sebelumnya tidak diperkirakan akan terlihat secara jelas selama misi. “Bahkan terdengar teriakan kegembiraan ketika laporan itu masuk,” ujar Young dalam konferensi pers, Selasa, 7 April 2026.

Ia menambahkan, tim ilmiah dan kru telah melakukan persiapan panjang untuk pengamatan Bulan. Namun, mereka tidak menyangka akan melihat begitu banyak tumbukan.

Pengamatan tersebut terjadi saat Matahari berada di balik Bulan. Hal ini menciptakan gerhana Matahari dari perspektif para astronot selama hampir satu jam.

Dalam kondisi tersebut, kru Orion melaporkan menyaksikan sedikitnya lima kilatan tumbukan mikrometeorit di sisi jauh Bulan. Kilatan itu muncul ketika partikel kecil dari luar angkasa menghantam permukaan Bulan dengan kecepatan tinggi.

Observasi ini dinilai penting karena dapat membantu ilmuwan memahami dinamika lingkungan di sekitar Bulan. Artemis II sendiri menjadi misi berawak pertama yang kembali ke wilayah Bulan sejak Apollo 17 pada 1972.

Selama perjalanan 10 hari menuju Bulan dan kembali ke Bumi, para astronot juga ditugaskan mengidentifikasi fitur geografis Bulan. Awak juga memotret permukaannya serta mencatat berbagai temuan ilmiah untuk dianalisis para peneliti di Bumi.

Menurut Young, pengamatan tersebut menunjukkan bahwa integrasi sains dalam operasi penerbangan antariksa dapat menghasilkan temuan berharga. “Sains memungkinkan eksplorasi, dan eksplorasi juga memungkinkan sains,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....