BRIN Percepat Revitalisasi Fasilitas Bahan Bakar Nuklir untuk Keberlanjutan

  • 19 Mar 2026 12:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) memperkuat langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan operasional Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (RSG-GAS). Langkah tersebut dilakukan melalui rencana revitalisasi fasilitas fabrikasi bahan bakar nuklir di Gedung 60 (Gd 60), Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong.

Langkah tersebut diwujudkan melalui kegiatan kunjungan dan pemeriksaan fasilitas, pada Senin 16 Maret 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pengembangan riset produksi elemen bakar reaktor riset sekaligus percepatan proses pengalihan aset dari PT Industri Nuklir Indonesia (PT INUKI) kepada BRIN melalui koordinasi lintas lembaga.

Kepala Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif (PRTBNLR), Maman Kartaman Ajiriyanto, menegaskan bahwa kegiatan tersebut memiliki nilai strategis dalam memastikan kesiapan teknis fasilitas. “Kami melakukan cek fisik secara menyeluruh terhadap peralatan proses dan fabrikasi bahan bakar nuklir untuk mengetahui kondisi aktual, tingkat kerusakan, serta kebutuhan perbaikan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam proses revitalisasi,” ujarnya.

Pemeriksaan dilakukan terhadap seluruh rantai proses produksi bahan bakar nuklir, mulai dari peralatan konversi bahan, produksi serbuk, hingga fabrikasi elemen bakar berbasis U3Si2 dan sistem kendali kualitas. Berdasarkan hasil awal pemeriksaan, mayoritas peralatan fabrikasi masih berada dalam kondisi baik dan dinilai layak untuk dioperasikan kembali dengan dukungan perawatan rutin serta perbaikan minor.

Namun demikian, sejumlah fasilitas penunjang memerlukan pembaruan, terutama pada peralatan kendali kualitas seperti X-ray, ultrasonic testing (UT), serta mesin las. Selain itu, sistem ventilasi (VAC) dan infrastruktur internal gedung juga direkomendasikan untuk direvitalisasi guna memenuhi standar keselamatan dan keandalan operasional yang lebih mutakhir.

Kegiatan ini melibatkan kolaborasi multipihak, antara lain PRTBNLR-ORTN, Direktorat Pengelolaan Fasilitas Ketenaganukliran (DPFK), Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), PT Industri Nuklir Indonesia (PT INUKI), serta akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Kehadiran peneliti senior yang berpengalaman dalam fabrikasi bahan bakar nuklir turut memperkuat proses evaluasi teknis di lapangan.

Peneliti Ahli Utama PRTBNLR, Supardjo, menjelaskan proses fabrikasi serta sistem kendali kualitas bahan bakar nuklir yang terdapat di Gedung 60. Ia menyampaikan bahwa fasilitas tersebut mengalami sejumlah kerusakan minor karena tidak dioperasikan sejak tahun 2021.

Meski demikian, perbaikan terhadap peralatan pada prinsipnya masih dapat dilakukan secara mandiri. Seluruh rangkaian kegiatan kunjungan ke dalam fasilitas dilaksanakan dengan mengedepankan prinsip keselamatan dan keamanan radiasi.

Setiap personel dilengkapi dengan alat pelindung diri (APD) sesuai standar serta menjalani prosedur pemeriksaan pasca kegiatan untuk memastikan tidak terjadi paparan radiasi. Sebelum kegiatan inspeksi dimulai, Petugas Proteksi Radiasi (PPR) terlebih dahulu memasuki fasilitas untuk mengukur tingkat paparan radiasi dan memastikan kondisi lingkungan aman bagi personel yang akan melakukan pemeriksaan di dalam Gedung 60.

Lebih lanjut, Maman menekankan urgensi percepatan revitalisasi fasilitas tersebut. Ia menyampaikan bahwa ketersediaan bahan bakar untuk RSG-GAS diproyeksikan hanya mencukupi hingga tahun 2026 sehingga langkah revitalisasi perlu segera direalisasikan.

“Ketersediaan bahan bakar untuk RSG-GAS diproyeksikan hanya mencukupi hingga tahun 2026. Oleh karena itu, langkah revitalisasi harus segera direalisasikan agar pasokan bahan bakar dapat terjamin untuk operasional reaktor ke depan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa revitalisasi dapat dilakukan secara bertahap, dimulai dari perbaikan sistem ventilasi (VAC) dan aspek keselamatan, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan serta perbaikan peralatan fabrikasi. Sementara itu, peralatan kendali kualitas seperti X-ray dan ultrasonic testing (UT) direkomendasikan untuk diganti dengan perangkat baru guna mendukung standar operasional yang lebih andal.

Maman juga menyoroti pentingnya pemanfaatan kompetensi nasional yang telah dimiliki. Indonesia melalui BRIN dan PT INUKI memiliki sumber daya manusia yang berpengalaman dan kompeten dalam fabrikasi bahan bakar nuklir.

Dengan dukungan tersebut, pengoperasian kembali fasilitas ini dinilai sangat memungkinkan untuk segera diwujudkan, baik melalui skema pengalihan aset maupun opsi penugasan operasional. Dari sisi akademik, perwakilan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Kusnanto, menyatakan komitmennya untuk berkontribusi dalam pengembangan teknologi, khususnya pada aspek modernisasi dan digitalisasi fasilitas.

Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya mempercepat revitalisasi, tetapi juga menjadi wahana pembelajaran bagi generasi muda dalam penguasaan teknologi nuklir nasional. Melalui sinergi antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi, BRIN optimistis revitalisasi fasilitas fabrikasi bahan bakar nuklir di Gedung 60 dapat segera terealisasi.

Langkah ini menjadi bagian penting dalam memperkuat kemandirian Indonesia dalam penyediaan bahan bakar nuklir. Sekaligus menjaga reputasi dan daya saing bangsa di tingkat internasional.(nf,grp/edt.aj)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....