Puncak Gerhana Bulan Total Berlangsung Mulai Pukul Berapa? Ini Jadwalnya

  • 03 Mar 2026 14:22 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan fenomena astronomi Gerhana Bulan Total akan melintasi wilayah Indonesia pada Selasa, 3 Maret 2026. Peristiwa alam yang menakjubkan tersebut dapat diamati secara langsung oleh seluruh masyarakat dari berbagai penjuru tanah air yang akan dimulai pukul 18.03 WIB.

Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama mengatakan gerhana terjadi akibat dinamisnya posisi benda langit tersebut. Fenomena ini muncul saat posisi Matahari dan Bumi serta Bulan berada dalam satu garis yang sangat sejajar.

“Hal ini membuat Bulan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi. Fenomena ini menyajikan pemandangan yang indah; jika langit cerah, Bulan akan terlihat berwarna merah saat puncak gerhana terjadi,” kata Nelly melalui situs resmi BMKG di Jakarta, Senin, 2 Maret 2026.

Ia menjelaskan durasi totalitas saat Bulan berada dalam bayangan umbra Bumi akan berlangsung selama 59 menit. Sementara itu durasi keseluruhan fenomena alam ini akan memakan waktu hingga 5 jam 41 menit 51 detik.

Nelly menyebutkan durasi fase parsialitas pada peristiwa gerhana kali ini akan berlangsung selama 3 jam 27 menit. Masyarakat akan melihat Bulan berubah warna menjadi merah sebagai hasil dari proses hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi.

Ia mengatakan cahaya matahari dengan panjang gelombang merah berhasil lolos hingga mencapai permukaan Bulan saat puncak terjadi. Kondisi langit yang cerah sangat menentukan keberhasilan publik untuk menikmati keindahan visual dari fenomena astronomi langka ini.

Plt. Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu, Fachri Radjab mengatakan Gerhana Bulan Total akan dimulai pukul 18.03 WIB. Ia menjelaskan puncak gerhana akan terjadi pada pukul 18.33 WIB untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya pada hari Selasa, 3 Maret 2026.

“Fenomena ini akan benar-benar berakhir sepenuhnya pada pukul 21.24 WIB (atau tengah malam di wilayah WIT) saat bulan keluar dari bayangan penumbra bumi. Masyarakat diimbau untuk mencari lokasi pengamatan yang minim polusi cahaya dan memiliki pandangan langit yang cerah ke arah terbitnya bulan,” ujar Fachri.

Ia mengatakan wilayah Timur Indonesia memiliki visibilitas yang lebih baik karena dapat mengamati gerhana sejak fase awal. Sebaliknya penduduk wilayah Barat Indonesia akan menemukan gerhana dalam kondisi sudah berlangsung sesaat setelah Bulan mulai terbit.

Fachri menjelaskan tahun 2026 diprediksi akan mengalami empat kali peristiwa gerhana Matahari dan juga dua kali gerhana Bulan. Namun hanya peristiwa Gerhana Bulan Total pada tanggal 3 Maret 2026 yang dapat disaksikan dari wilayah Indonesia.

Ia menyebutkan fenomena ini secara astronomis merupakan anggota ke-27 dari 71 anggota yang terdaftar pada seri Saros 133. Peristiwa alam serupa sebelumnya pernah terjadi pada tahun 2008 dan diprediksi akan kembali berulang pada tahun 2044 mendatang.

BMKG berkomitmen untuk terus memberikan informasi tanda waktu dan fenomena astronomi secara akurat kepada publik. Masyarakat diimbau untuk menikmati fenomena ini dengan tetap memperhatikan informasi prakiraan cuaca setempat dari kanal resmi pemerintah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....