BRIN Luruskan Mitos Gerhana Bulan lewat Edukasi Sains

  • 03 Mar 2026 13:12 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengajak masyarakat memahami fenomena gerhana secara ilmiah dan tidak lagi mempercayai mitos. Demikian disampaikan oleh Profesor Riset Astronomi-Astrofisika BRIN, Thomas Djamaludin.

Ia menilai, penjelasan berbasis sains dinilai penting agar informasi yang beredar lebih rasional, dan dapat dipertanggungjawabkan.

"Mitos-mitos seperti itu perlu dijelaskan secara sains. Gerhana bulan dan gerhana matahari terjadi karena konfigurasi sistem Bumi, Bulan, dan Matahari," katanya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Selasa, 3 Maret 2026.

Ia menyampaikan, gerhana bulan terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan sehingga cahaya Matahari ke Bulan terhalang. Sementara gerhana matahari terjadi saat Bulan berada di antara Bumi dan Matahari.

Ia menegaskan, peristiwa itu menjadi bukti bahwa Bulan mengelilingi Bumi dalam orbitnya. Sekaligus menunjukkan keteraturan sistem tata surya yang dapat dijelaskan melalui ilmu pengetahuan.

"Ketika Bumi menghalangi cahaya Matahari ke Bulan, maka terjadi gerhana bulan. Sebaliknya, saat Bulan menghalangi Matahari, itulah gerhana matahari, peristiwa ini menunjukkan bahwa Bulan mengitari Bumi," ucapnya.

Ia mengimbau agar masyarakat untuk menjadikan fenomena gerhana sebagai momentum edukasi sains. Sekaligus memperkuat literasi astronomi di tengah masyarakat.

Sementara itu, BMKG memastikan Gerhana Bulan Total terjadi pada terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026. Fenomena astronomi ini dapat diamati dari berbagai wilayah di Indonesia selama kondisi cuaca mendukung.

Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama menjelaskan bahwa Gerhana Bulan terjadi akibat dinamika posisi tata surya. Diantaranya Matahari, Bumi, dan Bulan yang berlangsung saat fase purnama.

Secara khusus, Gerhana Bulan Total terjadi ketika ketiganya berada pada satu garis sejajar. Sehingga Bulan sepenuhnya masuk ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi.

"Hal ini membuat Bulan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi. Fenomena ini menyajikan pemandangan yang indah; jika langit cerah, Bulan akan terlihat berwarna merah saat puncak gerhana terjadi," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....