Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Berwarna Merah, Ini Alasannya
- 02 Mar 2026 16:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Gerhana bulan total yang terjadi pada 3 Maret 2026 akan menyuguhkan pemandangan langit yang spektakuler. Pada momen ini, bulan akan tampak berwarna merah, sehingga fenomena tersebut dikenal sebagai Blood Moon (Bulan Berdarah).
Warna merah yang terlihat saat gerhana bukan karena Bulan benar-benar berubah warna. Fenomena ini terjadi akibat cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi sebelum akhirnya mencapai permukaan Bulan.
Saat cahaya Matahari melewati atmosfer Bumi, gelombang cahaya dengan panjang lebih pendek seperti biru dan ungu. Sebaliknya, gelombang cahaya dengan panjang lebih besar, seperti merah, justru lebih banyak lolos dan diteruskan.
Cahaya merah inilah yang kemudian dibelokkan (refracted) oleh atmosfer bumi dan mencapai Bulan di dalam bayangan umbra. Proses ini dikenal sebagai hamburan Rayleigh (Rayleigh scattering).
Akibatnya, meski dalam bayangan gelap, cahaya merah tepi Bumi tetap menyinari Bulan. Pantulan cahaya tersebut membuat bulan tampak berwarna merah atau tembaga khas yang dikenal sebagai Blood Moon.
Dikutip dari BBC, efek ini serupa dengan langit berwarna merah saat matahari terbit atau terbenam. Hal itu juga disebabkan oleh hamburan Rayleigh di atmosfer bumi.
Warna Merah Bisa Berbeda-beda
Intensitas warna merah saat gerhana Bulan total tidak selalu sama. Tingkat kegelapan dan rona merah yang terlihat dapat bervariasi antarperistiwa, tergantung pada kondisi atmosfer Bumi saat itu.
Faktor seperti debu, abu vulkanik, awan, atau polutan di atmosfer memengaruhi seberapa banyak cahaya Matahari. Semakin banyak partikel di atmosfer, semakin kuat hamburan cahaya biru, dan semakin dalam warna merah atau tembaga.
Berbeda dengan gerhana Matahari, gerhana Bulan aman diamati langsung dengan mata telanjang. Pengamat cukup melihat ke arah Bulan saat fase totalitas untuk menikmati perubahan warna yang menakjubkan ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....