Peneliti UMY Soroti Dampak Iklim pada Pangan
- 26 Feb 2026 15:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Periset Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Zuhud Rozaki menegaskan perubahan iklim menggerus produktivitas sekaligus kualitas pangan yang dikonsumsi masyarakat. Menurut Zuhud, perubahan iklim menekan produksi akibat hujan yang tak menentu, krisis air, hingga menyebabkan kekeringan panjang.
“Perubahan iklim secara umum menurunkan produksi karena curah hujan tidak menentu, air terbatas, dan periode kekeringan semakin panjang. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi jumlah produksi, tetapi juga berpotensi mengubah komposisi bahan pangan yang dihasilkan,” kata Zuhud Rozaki kepada wartawan usai menghadiri dialog bertajuk “Penguatan Pola Konsumsi Pangan Sehat dan Berkelanjutan Lewat Transformasi Digital Inklusif” di Jakarta, Rabu, 25 Februari 2026.
Untuk menjawab tantangan tersebut, kata Zuhud, para tim peneliti mengembangkan demplot atau uji coba lahan di sejumlah sentra pangan di Jawa. Langkah ini dilakukan guna mengkaji respons tanaman terhadap keterbatasan air.
“Hasil penelitian menunjukkan produksi tetap dapat dipertahankan meski air tidak melimpah. Sepanjang diimbangi penggunaan pupuk secara optimal,” ucap Zuhud menjelaskan.
Zuhud menambahkan, hasil riset tersebut terintegrasi dalam pengembangan aplikasi digital MyINDAHDiet. Aplikasi itu tak hanya mengulas nutrisi dan gizi, tetapi juga menyoroti aspek produksi pangan berkelanjutan.
“MyINDAHDiet kami rancang sebagai solusi digital inklusif untuk mendukung pola makan sehat dan berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan pangan. Khususnya di kawasan perkotaan dan peri-urban di Pulau Jawa,” ucap Zuhud menegaskan.
Sementara itu, Kementerian PPN/Bappenas menegaskan transformasi sistem pangan nasional harus dilakukan secara menyeluruh dan inklusif. Hal tersebut disampaikan Perencana Ahli Pertama Direktorat Pendidikan Tinggi dan IPTEK Wening Aulia Zulkarnain.
“Saat ini, Indonesia dalam menghadapi tantangan ganda, satu sisi kita masih berjuang melawan malnutrisi dan stunting. Sementara di sisi lain muncul tren obesitas dan konsumsi pangan olahan berlebih. Diperlukan pendekatan lintas sektor, berbasis data, dan inklusif,” ujar Wening.
Ia mengatakan, pemerintah menyambut positif kolaborasi riset Indonesia-Australia melalui program MyINDAH Diet. Menurutnya, program tersebut mendorong solusi digital untuk memperkuat sistem pangan perkotaan dan peri-urban di Pulau Jawa.
“Kegiatan seperti Connect! #10 ini menjadi contoh nyata kemitraan pengetahuan yang memperkuat siklus knowledge-to-policy dan knowledge-to-innovation. Langkah ini dilakukan agar hasil riset tidak berhenti di laporan, tetapi benar-benar berdampak pada kebijakan publik dan kesejahteraan masyarakat,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....