Gerhana Matahari Cincin 17 Februari, Terlihat di Indonesia?

  • 11 Feb 2026 15:09 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Fenomena gerhana matahari cincin akan kembali terjadi pada Senin, 17 Februari 2026. Peristiwa langit ini dikenal sebagai salah satu jenis gerhana yang cukup langka dan selalu menarik perhatian para pengamat astronomi.

Gerhana matahari terjadi ketika Bulan berada di antara Matahari dan Bumi, sehingga cahaya Matahari tertutup sebagian atau seluruhnya. Pada jenis tertentu, penampakan Matahari bisa terlihat berbeda dari biasanya.

Salah satu jenisnya adalah gerhana matahari cincin, Matahari, Bulan, dan Bumi berada pada posisi segaris. Namun Bulan berada pada jarak yang lebih jauh dari Bumi sehingga tampak lebih kecil dibandingkan piringan Matahari.

Akibat kondisi tersebut, Bulan tidak mampu menutupi Matahari secara sempurna. Saat fase puncak, Matahari terlihat seperti lingkaran bercahaya dengan bagian tengah yang gelap, dikenal sebagai ring of fire atau cincin api.

Lantas, apakah gerhana matahari cincin pada 17 Februari 2026 dapat disaksikan dari Indonesia? Berdasarkan keterangan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), fenomena ini tidak melintasi wilayah Indonesia.

Jalur utama gerhana matahari cincin hanya melewati kawasan terpencil di Antartika. Sementara itu, wilayah lain hanya akan mengalami gerhana matahari sebagian.

Menurut laporan Space.com, sekitar 96 persen piringan Matahari akan tertutup oleh Bulan pada peristiwa ini. Namun, fase cincin api hanya berlangsung singkat.

Durasi maksimum fase gerhana cincin diperkirakan sekitar 2 menit 20 detik. Karena terjadi di wilayah ekstrem, hanya segelintir orang yang berkesempatan menyaksikannya secara langsung.

Pengamat yang berpotensi melihat fenomena ini secara langsung sebagian besar adalah peneliti di stasiun ilmiah Antartika, serta penumpang kapal pesiar yang berlayar di kawasan tersebut.

Selain Antarktika, gerhana matahari sebagian juga dapat terlihat di Afrika bagian selatan, ujung selatan Amerika Selatan, serta wilayah perairan Samudra Pasifik, Atlantik, dan Hindia.

Meski tidak dapat disaksikan langsung dari Indonesia, masyarakat tetap bisa mengikuti perkembangan fenomena ini melalui siaran langsung dan dokumentasi yang dirilis lembaga astronomi resmi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....