Kemendiktisaintek Dorong Peningkatan Partisipasi Perempuan di STEM
- 30 Jan 2026 20:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mendorong peningkatan partisipasi perempuan di bidang Science, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM). Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif Ardi Findyartini mengatakan jumlah perempuan di bidang STEM masih rendah dibanding laki-laki.
Ardi menekankan perlunya dorongan agar generasi muda perempuan lebih percaya diri memilih bidang STEM tersebut. Ia menilai pendidikan tinggi harus menyediakan akses seimbang bagi mahasiswa laki-laki dan perempuan.
“Kita berusaha juga agar akses terhadap pendidikan tinggi di bidang STEM itu juga balance, antara mahasiswa dan mahasiswi. Kita berharap juga bisa menginspirasi bahwa STEM can also be for girls,” ucap Ardi usai Kuliah Umum bertajuk ‘STEMpowerment for all: Breaking Barriers, Building Futures’ di Universitas YARSI, Jakarta, Jumat, 30 Januari 2026.
Menurut Ardi, peran perempuan di STEM tidak hanya di institusi pendidikan, tetapi juga di rumah dan keluarga. Ardi menyebut, seorang ibu dapat menanamkan rasa ingin tahu, berpikir kritis, dan ketangguhan belajar kepada anak-anaknya.
“Perempuan sebagai ibu yang kritis terhadap kemampuan, menyempatkan diskusi dengan anak-anak di rumah. Jadi saya menghighlight bahwa peran perempuan dalam meningkatkan peran wanita di bidang STEM sebetulnya bisa terjadi di semua aspek,” ujarnya.
Ia juga menambahkan guru juga berperan sebagai panutan bagi siswi untuk memilih STEM. Dengan bimbingan dan inspirasi yang tepat, partisipasi perempuan di bidang ini dapat meningkat secara signifikan.
Ardi menegaskan bahwa membangun ekosistem STEM yang inklusif membutuhkan dukungan dari rumah, sekolah, dan pendidikan tinggi. Kesempatan yang setara akan memaksimalkan potensi talenta perempuan di bidang sains dan teknologi.
Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas YARSI Fasli Jalal menekankan pentingnya menumbuhkan minat pada STEM sejak usia dini. Upaya ini dinilai krusial untuk memperkuat basis ilmuwan Indonesia ke depan.
Fasli mengatakan pengenalan STEM tidak harus menunggu jenjang pendidikan formal. Menurutnya, keluarga memegang peran awal membentuk rasa ingin tahu anak.
Ia menyebut pembelajaran sains dapat dilakukan melalui aktivitas sederhana sehari-hari. Menurutnya, pendekatan tersebut membantu anak memahami STEM tanpa tekanan akademik.
“Kita bersama sebagai bangsa untuk menurcur (memupuk) sejak dari awal yang diperkenalkan, tiga tahun udah bisa. Apalagi nanti di SD, SMP, SMA, mereka dialirkan nanti kebidang mereka,” ucap rektor tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....