Rektor YARSI Dorong Inklusi Gender di Bidang STEM
- 30 Jan 2026 19:04 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta – Rektor Universitas YARSI Fasli Jalal menekankan pentingnya inklusi dan dukungan bagi generasi muda di bidang STEM. Menurutnya, pendidikan Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM) harus menjadi ruang terbuka bagi semua, tanpa hambatan atau batasan gender.
“STEM bukan hanya soal laboratorium, persamaan, atau inovasi. STEM adalah tentang manusia, tentang siapa yang mendapat akses, didorong, terwakili, dan akhirnya siapa yang berhak membagi masa depan,” kata Fasli dalam Kuliah Umum bertema ‘STEMpowerment for all: Breaking Barriers, Building Futures’ bermitra dengan Plan Indonesia di Universitas YARSI, Jakarta, Jumat, 30 Januari 2026.
Fasli mengatakan banyak perempuan dan laki-laki muda masih menghadapi hambatan tak terlihat di bidang STEM. Menurutnya, norma sosial dan peluang terbatas membatasi perkembangan mereka serta mengurangi kesempatan maju di STEM.
Selain itu, akses terhadap panutan dan pendidikan berkualitas juga belum merata di seluruh institusi. “Jika bakat itu universal, maka kesempatan pun harus universal,” ucapnya.
Ia juga menyoroti pengembangan sains di Universitas YARSI. Menurutnya, pengembangan itu harus sejalan dengan tanggung jawab etika dan inklusi sosial.
Fasli mengatakan institusi pendidikan harus menciptakan lingkungan belajar bebas diskriminasi. Seperti menghadirkan figur teladan dinilai penting agar mahasiswa, khusunya perempuan muda, merasa diterima dan didukung mengembangkan karier di STEM.
Sementara itu, Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif Kemendiktisaintek Ardi Findyartini mendorong peningkatan partisipasi perempuan di bidang STEM. Ia mengatakan saat ini jumlah perempuan yang menggeluti bidang STEM di Indonesia masih rendah dibanding laki-laki.
Ardi menekankan perlu ada dorongan agar generasi muda perempuan lebih percaya diri memilih bidang STEM. Ia menilai pendidikan tinggi harus menyediakan akses seimbang bagi mahasiswa laki-laki dan perempuan.
“Kita berusaha juga agar akses terhadap pendidikan tinggi di bidang STEM itu juga balance, antara mahasiswa dan mahasiswi. Kita berharap juga bisa menginspirasi bahwa STEM can also be for girls,” ucapnya
Menurut Ardi, peran perempuan di STEM tidak hanya di institusi pendidikan, tetapi juga di rumah dan keluarga. Ardi menyebut, seorang ibu dapat menanamkan rasa ingin tahu, berpikir kritis, dan ketangguhan belajar kepada anak-anaknya.
“Perempuan sebagai ibu yang kritis terhadap kemampuan, menyempatkan diskusi dengan anak-anak di rumah. Jadi saya menghighlight bahwa peran perempuan dalam meningkatkan peran wanita di bidang STEM sebetulnya bisa terjadi di semua aspek,” ujar Ardi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....