Protes Pelajar Ganggu 735 Sekolah di Prancis, 1.747 Orang Ditangkap
- 03 Okt 2026 14:54 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pelajar sekolah menengah di Prancis menggelar aksi menuntut perbaikan kondisi pendidikan, termasuk jam belajar yang dinilai terlalu panjang, fasilitas yang belum memadai, serta banyaknya guru dan staf yang tidak hadir.
- Menteri Pendidikan Edouard Geffray menyebut 735 dari sekitar 3.700 sekolah terdampak aksi pada Jumat, 2 Oktober 2026. Jumlah tersebut turun 30 persen dibandingkan sehari sebelumnya.
- Aksi di sejumlah kota diwarnai bentrokan antara pelajar dan polisi, penggunaan gas air mata, serta kerusakan fasilitas.
RRI.CO.ID, Paris — Pelajar sekolah menengah di Prancis menggelar aksi protes untuk menuntut kondisi pendidikan yang lebih baik. Gerakan tersebut awalnya dimulai di wilayah Paris pada September dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah di Prancis.
Melansir dari Le Monde, para pelajar memblokir akses ke sejumlah sekolah dan terlibat bentrokan dengan polisi. Pada Jumat, 2 Oktober 2026, sejumlah pelajar membakar benda dan melemparkan benda ke aparat, kemudian direspons dengan menggunakan gas air mata.
Para aktivis menyerukan aksi protes baru pada Selasa, 29 September 2026. Serikat pekerja dan kelompok pelajar meminta pemerintah mengambil langkah konkret terkait tuntutan mereka.
Para pelajar mengeluhkan jam belajar yang terlalu panjang dan kondisi sekolah yang dinilai belum memadai. Para pelajar juga menyoroti banyaknya tenaga pengajar dan staf yang tidak hadir.
Menteri Pendidikan Edouard Geffray mengatakan 735 dari sekitar 3.700 sekolah terdampak aksi pada Jumat, 2 Oktober 2026. Jumlah tersebut turun sekitar 30 persen dibandingkan Kamis, 1 Oktober 2026.
Geffray mengatakan tiga anggota staf terluka pada Jumat, dibandingkan dengan 31 anggota staf yang terluka pada Kamis. Pemerintah juga berencana meluncurkan rencana untuk mempercepat penggantian guru yang tidak hadir.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez mengatakan 1.747 orang ditangkap pada Jumat. Ia mengatakan terjadi pelemparan benda dan serangan terhadap polisi, guru, jurnalis, serta warga yang melintas.
Pelajar dan polisi saling menuduh melakukan kekerasan selama aksi berlangsung. Di Brest, polisi menggunakan gas air mata setelah pelajar melemparkan benda ke arah aparat keamanan.
Di Belfort, sekelompok pemuda terekam mengepung dan menendang seorang polisi hingga jatuh. Di Paris, kebakaran merusak pintu masuk dua sekolah menengah dan petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api.
Kepolisian Prancis kemudian membuka penyelidikan internal atas tuduhan kekerasan terhadap demonstran. Di Toulouse, para demonstran menggunakan obat tetes mata setelah polisi menembakkan gas air mata.
Sementara di Aubervilliers, polisi menggunakan tongkat dan tameng antihuru-hara untuk mengendalikan demonstran. Geffray mengatakan sedikitnya 65 anggota staf terluka sejak gerakan dimulai, termasuk 40 kepala sekolah.
Sekitar 170 pelajar juga terluka, sementara lebih dari 100 sekolah mengalami kerusakan parah. Pemerintah menyerukan agar para pelajar tidak berada di jalanan karena dinilai menghadapi risiko keselamatan
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....