AS Desak Eropa Lepaskan Cadangan Diesel di tengah Harga Energi Rekor

  • 02 Okt 2026 16:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • AS mendesak negara-negara Eropa melepaskan cadangan diesel untuk membantu mengatasi gangguan pasokan global dan kenaikan harga energi.
  • Harga diesel AS mencapai rekor 6,50 dolar AS per galon, sementara Trump masih mempertimbangkan larangan ekspor diesel yang dinilai berpotensi berdampak pada harga bensin dan ekonomi Eropa.
  • Uni Eropa menggelar pembicaraan krisis terkait kenaikan harga diesel, di tengah gangguan lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz akibat perang Iran.

RRI.CO.ID, Washington — Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak negara-negara Eropa segera melepaskan sebagian cadangan diesel mereka. AS menilai petani, pengemudi truk, dan pelaku usaha Amerika tidak seharusnya menanggung beban gangguan pasokan global.

Desakan tersebut muncul ketika Trump masih mempertimbangkan larangan ekspor diesel dari AS. Kebijakan tersebut menjadi salah satu opsi untuk mengendalikan tingginya harga energi, dilansir dari CNBC, Jumat, 2 Oktober 2026.

Harga rata-rata diesel di AS mencapai rekor 6,50 dolar AS (Rp116.317) per galon pada akhir September. Harga tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya di tengah gangguan pasokan akibat perang Iran dan invasi Rusia ke Ukraina.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent meminta negara-negara Eropa mempercepat pemenuhan komitmen pasokan mereka. Ia juga meminta tambahan pasokan segera tersedia untuk mengatasi gangguan yang masih berlangsung.

Bessent mengatakan AS telah melakukan bagiannya dalam menghadapi gangguan pasokan energi. Ia berharap negara-negara sekutu AS juga memenuhi komitmen mereka melalui tindakan.

Pemerintah AS saat ini menghadapi tekanan politik yang meningkat untuk mengatasi kenaikan harga bahan bakar. Tekanan tersebut muncul menjelang pemilihan umum paruh waktu AS pada November.

Trump mengatakan mungkin akan meminta negara-negara Eropa melepaskan cadangan diesel mereka. Presiden AS tersebut sebelumnya mengatakan sedang mempertimbangkan secara serius larangan ekspor diesel.

Namun, Trump tampak mengurangi kemungkinan penerapan kebijakan tersebut setelah ekspor minyak mentah melalui Selat Hormuz kembali meningkat. Ia tetap mengatakan dirinya masih mempertimbangkan larangan ekspor diesel, tetapi mengakui kebijakan tersebut dapat memberikan dampak negatif terhadap harga bensin.

Kemungkinan larangan ekspor AS memicu penolakan dari industri energi Amerika dan kekhawatiran di Eropa. AS memasok sekitar setengah dari impor diesel Uni Eropa pada Agustus, sehingga menunjukkan ketergantungan blok tersebut terhadap pasokan dari AS.

Negara-negara anggota Uni Eropa dijadwalkan mengadakan pembicaraan krisis pada Jumat, 3 Oktober 2026. Pertemuan tersebut bertujuan menyusun respons bersama terhadap kenaikan harga diesel.

Sementara itu, Macquarie Group menilai krisis diesel telah berkembang menjadi persoalan energi global. Analis Walt Chancellor mengatakan solusi utama adalah meningkatkan aliran minyak melalui Selat Hormuz dan keluar dari Timur Tengah.

Selat Hormuz merupakan jalur utama perdagangan minyak global. Lalu lintas kapal di kawasan tersebut terganggu setelah AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....